Get to Knows:
Get to Knows:

Kenapa Indonesia Sebaiknya Menolak Prabowo

INDONESIA2014 - Di berbagai kesempatan, para mahasiswa, publik, keluarga, teman-teman terdekat kerap bertanya  mengapa saya begitu keras menolak Prabowo.  Dan jawaban saya selalu sama: kalau anda menginginkan Indonesia sejahtera, damai, demokratis, adil, bebas korupsi, sebaiknya kita semua memang tak mendukung Prabowo.

Di bawah ini saya paparkan rangkaian alasan saya:

a. Prabowo Tak Bisa Diharapkan Memerangi Korupsi

Prabowo memang berulangkali menyatakan akan memerangi korupsi. Persoalannya, tak ada bukti dia mau dan bisa melakukannya. Rekam jejaknya menunjukkan Prabowo adalah tentara yang mati-matian membela Soeharto ketika sang Presiden memimpin Indonesia dan disebut sebagai salah satu presiden paling korup di dunia. Saat ini saja, keluarga Soeharto sudah bersepakat bulat untuk mendukung Prabowo.

Dikabarkan karena kedekatannya dengan Soeharto di masa Orde Baru, ia memiliki konsesi hutan, kebun, dan tambang batu bara. Tanah luasnya di Hambalang itu didapatnya dari mana? Apalagi Prabowo dalam debat capres menyatakan ia akan memerangi korupsi dengan cara meningkatkan kesejahteraan pejabat. Ini menunjukkan betapa ia tak paham dengan persoalan korupsi di Indonesia. 

b. Prabowo Tak akan Menutup Kebocoran Kekayaan Negara 

Prabowo berulangkali menyatakan ia akan memerangi kebocoran kekayan negara. Ia tentu tak bisa disalahkan untuk soal kebocoran uang negara di masa pasca Orde Baru karena dia tidak pernah menempati jabatan apapun.

Namun, bagaimana dengan para anggota koalisi pendukungnya? Di sana ada:  Hatta Rajasa (terkait Mafia Migas-nya Riza Chalid dan pembangunan jembatan Jawa-Sumatra-nya Tommy Winata); Suryadharma  Ali (terkait mafia Haji), dan Anis Matta (terkait dugaan Mafia Sapinya PKS). Tentu jangan dilupakan Abu Rizal Bakrie dengan soal pengemplangan pajak-pajaknya, dan MS Kaban (Sistem Komunikasi Radio Terpadu)

c. Prabowo Tidak Percaya Pada Demokrasi

Dia merasa bangsa Indonesia tidak siap untuk demokrasi. Dia mengatakan bangsa Indonesia banyak yang ‘goblok’. Dia menyalahkan amandemen UUD 1945 yang memungkinkan adanya pemilihan Presiden dan Pimpinan daerah secara langsung. Prabowo akan memutar jam sejarah kembali ke masa Orde Baru.

d. Prabowo Percaya Pada Militerisme

Prabowo percaya bahwa Indonesia harus dipimpin ala militer dengan cara otoriter. Prabowo percaya ketegasan harus diterapkan dengan meniru kedisiplinan militer.  Karena itu, dia dikenal memang bisa memberikan hukuman fisik kepada bawahan-bawahannya yang dianggap tidak memenuhi standar.

Dia dikenal ringan tangan, bisa menggampar atau melempar handphone ke arah bawahan-bawahannya. Dalam semangat militerisme ini, kekerasan boleh dilakukan untuk meredam perlawanan atau perbedaan. Stabilitas dan ketertiban adalah sesuatu yang harus diprioritaskan. Tidak mengherankan bila organisasi-organisasi sipil yang percaya pada penggunaan kekerasan seperti Pemuda Pancasila, Front Pembela Islam atau Front Betawi Rempug berada dalam koalisi Prabowo. 

e. Prabowo Tak Percaya Pada Hak Asasi Manusia

Prabowo tidak percaya pada penegakan Hak Asasi Manusia. Dalam wawancara dengan Allan Nairn (wartawan investigatif terkemuka di dunia), ia dengan mudah mengeluarkan pernyataan bahwa yang salah dengan pembantaian masyarakat sipil adalah bila pembantaian itu diketahui oleh publik internasional.  

Rekam jejaknya ketika menjadi perwira militer juga menunjukkan kecenderungan  serupa. Dalam laporan ‘Blood on the Cross’ yang dibuat stasiun televisi ABC Australia (dapat diunduh di Youtube), Prabowo dengan asistensi pasukan bayaran asing membantai masyarakat sipil di Mapenduma, Irian, dengan berpura-pura sebagai tim Palang Merah Internasional.

Karena itu, tak heran bila ia memerintahkan anak buahnya untuk menculik dan kemudian menyiksa para aktivis pro demokrasi pada 1997 dan 1998, semata-mata untuk melancarkan pemilu 1997 dan Sidang Umum MPR 1998 yang memungkinkan Soeharto naik lagi ke tampuk kekuasaan.

f. Prabowo Harus Menuntaskan Pertanggungjawabannya dalam Kasus Penculikan dan Penyiksaan

Dia memang memerintahkan penculikan para aktivis anti-Soeharto pada 1998. Dewan Kehormatan Perwira sudah menyatakannya. Ayah Prabowo (Soemitro) sudah menyatakannya. Fadli Zon sudah mengakuinya. Prabowo menyatakan itu dilakukan atas perintah atasan. Celakanya atasannya di dinas kemiliteran membantah bahwa mereka pernah memerintahkan Prabowo melakukan penculikan. Mungkin yang dimaksud  Prabowo sebagai ‘atasan’ adalah Soeharto. Ini harus dia pertanggungjawabkan di depan publik. 

g. Prabowo Tidak Bersikap Ksatria

Sampai sekarang Prabowo tidak pernah mau menjelaskan kepada publik tentang siapa yang memerintahkan dia melakukan penculikan dan penyiksaan para aktivis 1997-98. Dia juga tidak mau (tidak berani?) menyebut siapa yang melakukan penculikan 13 aktivis lain yang sampai sekarang tidak pernah kembali. Dia pasti tahu, tapi dia tidak cukup ksatria untuk menjelaskan kepada publik.

Prabowo juga tidak ksatria karena membiarkan para bawahannya (Tim Mawar) di mahkamah militer menyatakan bahwa aksi penculikan itu dilakukan atas inisiatif Ketua Tim Mawar sendiri, padahal belakangan diketahui jelas bahwa penculikan dilakukan atas perintah Prabowo. Memang Ketua Tim Mawar itu belakangan dijamin hidupnya oleh Prabowo, tapi bila ia ksatria, Prabowo seharusnya tidak membiarkan bawahannya itu mengorbankan diri demi dirinya.

h. Sebagai Militer, Prabowo Tidak Professional

Berkaitan dengan penculikan aktivis dan beberap kasus lainnya (Timor Timur dan Irian), Dewan Kehormatan Perwira menyatakan Prabowo melanggar Sumpah Prajurit dan Sapta Marga karena melakukan rangkaian tindakan tanpa mengindahkan hirarki kepemimpinan.

i. Prabowo Tidak Memiliki Kemampuan Memimpin di Luar Kesatuan Militer

Tak ada bukti bahwa Prabowo  akan menjadi pemimpin yang baik. Dia cuma pernah sukses menjadi perwira militer dan memimpin kesatuan militer. Itupun belakangan dicemari dengan tindak indisiplinernya. Perusahaan yang dipimpinnya bangkrut dan menyisakan utang Rp 7 triliun dan ribuan karyawan yang tak memperoleh hak.

j. Prabowo Manipulatif

Prabowo bisa saja berbohong di depan publik, tanpa merasa bersalah. Dia misalnya menyatakan akan membagi-bagi uang Rp 1 miliar untuk setiap desa, padahal itu sudah termuat sebagai kewajiban negara dalam UU Desa.

Ketika didesak, ia langsung berkilah bahwa gagasan alokasi Rp 1 miliar itu merupakan idenya yang kemudian diterima dalam UU. Dia bisa saja berpura-pura ramah dengan Jokowi di depan publik, tapi di belakang layar sebelum acara debat calon presiden,  dia menolak ketika hendak dipeluk Jokowi.

k. Prabowo Menolak Impor

Ternyata kudanya impor, makanan kudanya impor, tukang masak makanan kudanya orang asing

l. Prabowo Tega Memanfaatkan Agama

Prabowo percaya bahwa cara apapun bisa dilakukan untuk mencapai kemenangan. Dalam salah satu video yang beredar di Youtube, ia merujuk pada ajaran Sun Tzu yang menyatakan dalam strategi memenangkan perang, kalau perlu kita menjarah rumah tetangga kita yang kebakaran. Tujuan menghalalkan cara.

Dalam kasus Indonesia,  ia terlihat memanfaatkan agama untuk memperoleh dukungan politik yang dibutuhkannya. Berbagai partai politik Islam sangat percaya bahwa Prabowo akan menjadi Panglima Islam untuk membangun kejayaan Islam di Indonesia. Pada kenyataannya, Prabowo tidak pernah berusaha menjadi seorang pemeluk agama taat. Ia menyatakan bahwa ia percaya agama tapi tidak menjalankan ritus keagamaan. Ia mendekat pada kelompok-kelompok Islam pada 1990an karena ia percaya kelompok-kelompok tersebut akan bisa dijadikan sarana untuk melindungi Soeharto yang ketika itu semakin digerus kekuasaannya. Kini pun, pola serupa berulang. 

j.  Prabowo Tega Menjalankan Kampanye Hitam

Terlepas dari segenap pernyataannya tentang arti penting kampanye positif, kubu Prabowo terus menjalankan kampanye hitam dalam skala yang tak ada padanannya dalam sejarah Indonesia.

Karena kubu Prabowo sadar akan kekuatan objektif Jokowi,  mereka berusaha mendelegitimasi Jokowi dengan beragam fitnah yang memecah belah bangsa Indonesia, terutama dengan membangkitkan ketakutan umat Islam akan ancaman Kristen, ancaman Cina, ancaman Syiah, ancaman Ahmadiyah, ancaman kaum kafir, ancaman Yahudi, ancaman Amerika.  Ini dilakukan melalui beragam media soaial, media massa dan juga melalui pengajian dan ceramah agama.

Diduga keras mastermind di belakang kampanye Prabowo adalah Rob Allyn, yang pernah memenangkan Gubernur George Bush terpilih kembali di Texas pada 1994. Dia juga berhasil menaikkan Vincente Fox menjadi presiden Meksiko pada tahun 2003. Dialah yang dianggap menjadi ahli strategi kampanye Prabowo yang cenderung manipulatif, termasuk meluncurkan berbagai video penuh rekayasa di Youtube yang mengagung-agungkan Prabowo dan menghancurkan Jokowi. 

k. Prabowo Hidup Mewah

Terlepas dari jargon kerakyatannya, Prabowo hidup mewah.  Dia membangun istana di daerah Hambalang, Bogor. Dia memiliki ranch yang diisi puluhan kuda impor, yang masing-masingnya harganya bisa mencapai Rp 3 Miliar.  Mobil-mobilnya pun sedan mewah berharga miliaran rupiah.

l.  Prabowo Lebih Mempercayai Hewan

Dalam wawancara dengan Financial Times (Juni, 2013), Prabowo membandingkan kepercayaannya pada manusia dan binatang. “Manusia itu bisa berkhianat, bisa berbohong,” ujarnya. “Sementara hewan itu loyal. Anda mencintai mereka, mereka akan berbalik mencintai Anda. Anda loyal pada mereka, mereka loyal pada Anda.”

Mungkin masih ada hal-hal yang bisa menambah daftar panjang alasan mengapa saya berharap bangsa ini tak memilih Prabowo. Tapi dengan yang di atas saja, tentu orang mengerti mengapa saya – dan saya yakin jutaan orang lainnya – bersikap sama.

Masalahnya, Prabowo akan berjuang dan melakukan hal apapun untuk mengalahkan Jokowi. Dalam wawancara dengan harian The Straits Times (Juli, 2014), Prabowo menyatakan: “Losing is not an option”, yang kalau diterjemahkan berarti: “Saya tak akan menerima kemungkinan kalah.”

Menakutkan, tapi bukan berarti dia tak bisa dilawan.

 

 

Komentar

Threesome