Get to Knows:
Get to Knows:

“Langkah-langkah Politik ARB Rugikan Golkar”

INDONESIA2014 - Konflik internal di Partai Golkar kian meruncing. Sejumlah kader menentang langkah-langkah politik yang Aburizal Bakrie (ARB) ambil. Mereka menganggap ARB gagal selaku Ketua Umum Partai Golkar. Mereka menilai, ARB tidak mampu memberi dampak yang baik bagi partai beringin itu. Apalagi belakangan ia memecati beberapa kadernya.

Kegagalan ARB dimulai saat Golkar tak memenuhi target utamanya menjadi pemenang dalam Pemilu Legislatif (Pileg). Golkar justru keluar sebagai runner up dengan memperoleh 14,75 persen suara nasional. Kurang empat persen suara dari PDI-P sebagai pemenang Pileg. Padahal dua tahun sebelumnya, sejumlah survei memprediksi Golkar potensial memenangi Pileg.

Kegagalan Golkar itu berdampak cukup fatal saat Pemilu Presiden (Pilpres). Daya tawar Golkar di mata petinggi partai lain menjadi menurun. Ditambah elektabilitas ARB yang tidak juga membaik. Akibatnya ambisi Golkar untuk menjadikan ketua umumnya sebagai calon presiden kandas di tengah jalan.

Direktur Riset Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Djayadi Hanan, menilai serangkaian peristiwa eksternal di sekitar Golkar itu yang memperparah konflik di tubuh Golkar. Apalagi sejumlah kader Golkar tidak puas dengan keputusan ARB yang lebih memilih bergabung dengan Koalisi Merah Putih dan mendukung pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa ketimbang Joko Widodo-Jusuf Kalla. Padahal Kalla sendiri jelas-jelas kader Golkar.

Ketidakpuasan itu membuat sejumlah kader mendesak agar Musyawarah Nasional (Munas) Golkar digelar sesuai dengan waktunya pada Oktober nanti. Masalahnya, kata Djayadi, kubu ARB tahu bila Munas digelar sesuai waktunya, maka kelompok yang menentang ARB itu kemungkinan besar akan menang. Dengan begitu, lanjut Djayadi, jalan mereka untuk membawa Golkar bergabung dengan Jokowi-JK bertambah mulus.

“Karena itu, Munas ditunda agar momentum bagi pendukung Jokowi-JK di Golkar menjadi hilang untuk berkuasa. Posisi ARB juga jadi tidak kalah secara telak. Jadi zero-sum game. Pilihan bagi ARB sudah tidak banyak sekarang. Yang pasti, cepat atau lambat dia akan turun.” kata Djayadi.

Berikut wawancara lengkap Irwan Amrizal dari Indonesia-2014.com dengan dosen hubungan internasional Universitas Paramadina itu, Selasa (12/8) lalu, di kantor SMRC di Jakarta:

INA.2014: Konflik di tubuh Partai Golkar kian meruncing. Baru-baru ini, Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar, Agung Laksono, kabarnya dipecat dari partai berlambang beringin itu. Menurut Anda, apa yang terjadi?

DH: Yang terjadi di tubuh Golkar belakangan ini adalah kelanjutan dari konflik yang dieskalasi oleh peristiwa eksternal di sekitar Golkar. Dan seperti yang kita tahu, konflik di internal Golkar itu sudah lama. Sejak Munas Golkar 2009 di Riau, Aburizal Bakrie (ARB) terpilih sebagai penguasa di Golkar. Tentu dalam proses itu banyak kelompok yang tidak puas. Kelompok ini mendapatkan momentum untuk menampakkan ketidakpuasannya secara terang-terangan pada saat ini. Terutama setelah Pemilu Legislatif (Pileg).

INA.2014: Kubu siapa yang Anda maksud tak puas itu?

DH: Semula kita mengira kelompok itu adalah Surya Paloh dan para pendukungnya, yang kalah pada Munas Golkar 2009. Pendukung Surya ini banyak yang tidak ikut ke Partai Nasdem. Mereka memilih untuk tetap di Golkar. Selama kepemimpinan ARB, kelompok ini tiarap sementara. Ditambah lagi dengan faksi lainnya di Golkar yang juga cukup banyak.

Nah, pasca Pileg, para pendukung Surya yang tetap di Golkar dan faksi lain di tubuh partai beringin itu mulai mempertanyakan keberhasilan ARB dalam memimpin Golkar. Terutama ketika Golkar tidak bisa memenuhi target utamanya, yaitu menjadi pemenang Pileg. Padahal dua tahun sebelumnya, sejumlah survei memprediksi Golkar potensial memenangi Pileg.

Memang dalam Pileg 2014 lalu suara yang Golkar peroleh tidak terpaut jauh dengan suara PDIP yang keluar sebagai pemenang. Tapi, dengan kondisi itu daya tawar Golkar di mata petinggi partai yang lain menjadi sedikit menurun. Padahal, salah satu ambisi Golkar pada Pemilu kali ini adalah menjadikan kadernya, dalam hal ini ketua umumnya, menjadi calon presiden.

INA.2014: Hal yang belum pernah Golkar capai pasca Pemilu 1999, ya? Ketua umum Golkar selalu gagal jadi calon presiden... 

DH: Iya. Karena itu sejak awal sudah dirancang sedemikian rupa agar Ketua Umum Golkar bisa mencalonkan diri menjadi presiden. Nah, ARB sudah melakukan kampanye sejak ia terpilih menjadi Ketua Umum Golkar. Masalahnya, peran ARB sebagai ketua umum dan kampanyenya sebagai calon presiden tidak mampu mendongkrak suara Golkar dan elektabilitasnya.

Momentum inilah yang digunakan kelompok-kelompok yang tidak puas tadi itu, yang selama ini mereka tiarap di Golkar. Kelompok ini bisa jadi masih terhubung dengan tokoh-tokoh Golkar yang belakangan ini tidak terakomodasi dalam kepengurusan Golkar, seperti Jusuf Kalla dan Ginandjar Kartasasmita.

INA.2014: Jadi, sejumlah kegagalan pada era kepemimpinan ARB yang memantik konflik internal Golkar belakangan ini?

DH: Iya. Jangankan menjadi calon presiden, sebagai calon wakil presiden pun ARB tidak mampu. Ditambah lagi, ARB tidak bisa membangun deal politik yang menguntungkan buat Golkar. Padahal Golkar partai terbesar kedua. Bahkan sebagai partai terbesar di Koalisi Merah Putih yang mendukung Prabowo-Hatta, Golkar tidak mendapat konsesi yang cukup dari koalisi ini. Ini karena ARB tidak bisa bermanuver di koalisi Prabowo-Hatta sehingga daya tawar Golkar tidak cukup tinggi.

Di sisi lain, langkah ARB untuk berkoalisi dengan Prabowo-Hatta dinilai tidak menghargai kader Golkar lain, yaitu Jusuf Kalla yang punya posisi tawar lebih tinggi di kubu Jokowi sebagai cawapres. Apalagi saat ini pasangan Jokowi-JK ditetapkan sebagai presiden dan wakil presiden terpilih. Karena itu, lengkaplah sudah catatan kegagalan ARB di Golkar.

INA.2014: Jadi, pemecatan terhadap Agung Laksono dan sejumlah kader muda Golkar yang mendukung pasangan Jokowi-JK menambah panas perlawanan terhadap ARB?

DH: Itu masalahnya. ARB bukannya memberi ruang yang cukup dalam konteks demokrasi bagi kadernya, tapi justru malah melakukan pemecatan. Langkah-langkah yang tidak elegan dari ARB ini yang menyebabkan perlawanan dari kelompok anti-ARB ini makin mengeras.

Apalagi sekarang kelompok ini tengah mendorong Golkar untuk keluar dari Koalisi Merah Putih dan segera bergabung dengan kubu pemenang Pilpres, yaitu Jokowi-JK. Bagi para penentang ARB ini, Koalisi Merah Putih itu sudah tamat. Bahkan koalisi ini terkesan sebagai pertualangan politik saja. Sementara nasib Golkar ke depan akan lebih jelas bila bergabung dengan Jokowi-JK.

INA.2014: Langkah para penentang ARB itu untuk mendorong Golkar merapat ke Jokowi-JK tentu tidak mudah. ARB dan Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar, Akbar Tanjung, masih setia di koalisi Merah Putih. Bahkan mereka ikut menemani pasangan Prabowo-Hatta saat mengajukan gugatan Pilpres di Mahkamah Konstitusi….

DH: Pertarungan antara ARB dan para penentangnya menjadi semakin mengeras karena ada keterbatasan dari segi waktu. Maksud saya, bagi para penentang ARB yang mau bergabung dengan Jokowi-JK tentu mereka ingin mendapat konsesi politik yang cukup besar. Momentum itu hanya bisa mereka dapat sebelum Jokowi-JK dilantik. Mengapa? Karena saat ini kubu Jokowi-JK ada kebutuhan untuk menambah kekuatan koalisinya di DPR minimal 10 persen.

Nah, jika Golkar ikut bergabung, kebutuhan kubu Jokowi-JK itu sudah terpenuhi, bahkan lebih. Hanya masalahnya, Golkar bukan satu-satunya partai yang ingin bergabung di pemerintahan Jokowi-JK. Ada partai lain yang disinyalir juga ingin bergabung seperti PPP dan Demokrat. Jadi, Golkar harus adu cepat dengan partai lain. Jika Golkar telat bergabung, apalagi setelah Jokowi-JK dilantik, maka daya tawar yang Golkar dapat menjadi sangat rendah. Saat itu biasanya kabinet sudah terbentuk.

INA.2014: Kabarnya, ada upaya dari kubu ARB untuk menunda pelaksanaan Munas Golkar yang semestinya digelar Oktober 2014. Apakah ini skenario untuk menghambat para penentang ARB itu agar tidak bisa segera merapat ke Jokowi-JK? Atau ada tujuan lain?

DH: Kubu ARB tahu bila Golkar bergabung dengan Jokowi-JK, maka para penentangnya itu akan mendapat konsesi yang cukup besar. Karena itu, Munas ditunda agar momentum bagi pendukung Jokowi-JK di Golkar menjadi hilang untuk berkuasa. Dengan begitu, posisi ARB dalam konteks pertarungan tidak kalah secara telak.

INA.2014: Ini terdengar seperti zero-sum game?

DH: Iya, bisa jadi zero-sum game. Karena pilihan bagi ARB sudah tidak banyak sekarang. Yang pasti, cepat atau lambat, ARB akan turun. Bagi para penentangnya, ARB harus diturunkan Oktober ini juga agar Golkar bisa segera bergabung dengan Jokowi-JK. ARB tahu tentang hal ini. Karena itu, dia men-delay proses turunnya itu. Penundaan ini tentu akan merugikan kelompok penentangnya. Mungkin juga strategi ini diambil agar ARB bisa membuat deal politik yang lebih besar.

INA.2014: Deal apa yang Anda maksud?

DH: Misalnya, mungkin agar ARB tetap bisa diberi ruang di kepengurusan Golkar ke depan. Saya sendiri saat ini belum tahu. Strategi zero-sum game yang ARB ambil justru membuat konflik itu semakin mengeras. Akhirnya, ARB menggunakan senjata terakhir yang ia punya, yaitu pemecatan terhadap kadernya.

Agung Laksono sebenarnya bukanlah pihak yang paling keras melawan ARB. Tapi Agung orang yang berkepentingan untuk mengambil Golkar dari ARB. Agung ingin menjadi Ketua Umum Golkar yang baru. Dengan menjadi ketua umum, Agung bisa punya kekuasaan dan peran dalam pemerintahan yang baru. Inilah yang menyebabkan Golkar terus berada dalam kondisi gonjang-ganjing.

INA.2014: Agung Laksono mungkin bukan musuh utama ARB. Tapi Akbar Tanjung menyebut sejumlah dosa Agung. Di antaranya, ia tidak setuju Golkar mendukung Prabowo-Hatta dan menolak koalisi permanen. Apa pandangan Anda?

DH: Kalau kita lihat dari segi perhitungan politik objektif, langkah-langkah politik yang ARB ambil itu memang merugikan Golkar. Apalagi jika partai ini ingin berperan dalam pemerintahan ke depan. Kecuali, Golkar memang memutuskan untuk menjadi oposisi.Masalahnya, Golkar belum punya keputusan itu. Mau menjadi oposisi atau ikut koalisi? ARB sendiri tidak punya sikap yang jelas terkait hal itu.

Sikap yang mendua dan tidak jelas itu semakin membuat kelompok yang berseberang dengan ARB keras bertarung. Dalam konteks seperti itulah Agung menjadi salah satu payung dari mereka yang bertarung itu. Dan Agung memilih untuk bergabung dengan kelompok yang menentang ARB karena kepentingannya. Selain untuk memegang kekuasaan di Golkar, dirinya dan Golkar juga punya peran di pemerintahan.

INA.2014: Banyak pihak di partai itu merasa ARB memperlakukan Golkar seperti perusahaannya sendiri, bukan sebagai partai politik. Ini salah satu yang juga membuat suasana di Golkar kian panas. Pandangan Anda?

DH: Ya, itulah salah satu kegagalan dalam kepemimpinan ARB. Kalau saja dia memperlakukan penentangan-penentangan yang ada dalam tubuh Golkar, baik setelah Pileg maupun Pilpres, secara demokratis mungkin yang terjadi tidak sekeras seperti sekarang. Tapi, itulah yang terjadi saat ini.

ARB mungkin merasa sudah banyak mengeluarkan uang atau logistik ketika menjadi ketua umum. Maka, beginilah nasib Golkar saat ini. Golkar itu partai politik modern yang besar. Tapi ketika menjalankan roda organisasinya ia bergantung pada logistik dari ketua umum. Akibatnya, ketua umum merasa sudah membeli partai tersebut. Dan selanjutnya, manuver-manuver partai politik itu lebih didasarkan pada perhitungan-perhitungan politik pribadi ketua umum dan para pendukungnya.

Di sisi lain, kelompok penentang ARB jelas mengatakan bahwa Golkar itu bukan miliknya. Bahkan, bagi mereka, kondisi partai beringin yang sangat bergantung pada ketua umumnya saat ini sangat berbahaya bagi Golkar. Itulah yang menyebabkan tidak ada titik temu antara kedua belah pihak. Dengan pola itu, ARB sebagai pemegang kekuasaan di Golkar, bisa melakukan apa yang ia mau. Termasuk memecat kelompok yang menentangnya dari Golkar.***

Subtitle: 
Djayadi Hanan

Komentar

Threesome