Get to Knows:
Get to Knows:

Pemilu DKI: Ahok Belum Dapat Penantang Sepadan

Peta kekuatan politik menjelang pemilihan Gubernur DKI Jakarta terus berubah. Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dilaksanakan pada tanggal 24 hingga 29 Juni 2016 mengungkap beberapa temuan penting

untuk dijadikan bahan masukan bagi public DKI Jakarta mengenai politik DKI ke depan.

 

Diantara temuan-temuan menarik mencakup: dukungan public terhadap tokoh-tokoh yang mungkin jadi penantang Ahok, hubungan kinerja dengan dukungan pemilih terhadap petahana, factor-faktor yang mempengaruhi perubahan peta dukungan, sikap pemilih terhadap Ahok jika tetap maju dari jalur independen atau partai politik dan arah dukungan para pemilih partai politik.

 

1. Belum ada penantang sepadan

Hingga survey ini dilaksanakan, akhir Juni 2016, belum ada satu pun partai politik yang secara definitif mengajukan calonnya untuk maju menjadi penantang petahana.

 

Meskipun sejumlah nama tokoh telah mengemuka, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) masih belum mendapatkan lawan seimbang. Selisih elektabilitasnya dengan saingan terdekatnya masih jauh, di atas 30%.

 

Dalam simulasi terbuka, secara spontan, mayoritas belum menyebutkan pilihannya (54,4%), Ahok mendapat elektabilitas terbanyak 36,6%, cukup jauh di atas Yusril Ihza Mahendra 2,8%, Sandiaga Uno 2,1%, dan calon lain di bawah 1%.

 

Dalam simulasi semi terbuka (responden diberi daftar nama 22 calon untuk dipilih, dan boleh memilih nama lainnya di luar daftar). Ahok tetap yang paling tinggi, sudah mayoritas, 53,4%. Kemudian Yusril Ihza Mahendra 10,4%, Tri Rismaharini 5,7%, Sandiaga Uno 5,1%, Yusuf Mansur 4,6%, dan calon lain di bawah 3%.  Yang tidak tahu sebanyak 9,4%.

 

2. Ahok Semakin Diinginkan

Dibanding survei bulan Agustus 2015, elektabilitas kepada Ahok naik cukup tinggi. Survei ini menemukan bahwa kenaikan ini terkait dengan membaiknya persepsi pemilih DKI Jakarta terhadap kinerja Ahok.

 

Dalam simulasi spontan, elektabilitasnya naik 12,2%. Dan dalam simulasi semi terbuka naik 16,2%. Hal ini tidak lepas dari perubahan peta politik Jakarta yang dinamis. Misalnya, Ridwan Kamil yang menyatakan tidak akan maju sangat berpengaruh terhadap peta elektabilitas.

 

Tingginya elektabilitas Ahok juga tidak lepas dari penilaian warga atas kinerjanya sebagai gubernur petahana. Mayoritas warga, 69,7% sudah merasa puas dengan kerja Ahok selama ini.  Semakin banyak dibanding survei di bulan Agustus 2015, saat itu warga yang puas 63%.

 

Warga yang menginginkan Ahok kembali menjadi Gubernur DKI Jakarta juga semakin banyak. Dalam survei di bulan Juni 2016, warga yang ingin Ahok kembali menjadi gubernur 58%, sedangkan dalam survei di bulan Agustus 2015 baru 49%.

 

3. SARA: Hanya Berpengaruh terhadap “Ekstrim” minoritas

Survei juga menguji seberapa penting isu sara dalam kontestasi Gubernur DKI Jakarta. Mayoritas pemilih Jakarta cukup moderat dalam memandang asal-usul agama dan etnik ketika menentukan dukungan terhadap calon Gubernur.

 

Dalam isu agama (muslim tidak boleh dipimpin non muslim) dan etnis (etnis minoritas tidak boleh memimpin etnis mayoritas) cukup berpengaruh terhadap dukungan kepada Ahok.  Semakin setuju dengan pandangan tersebut semakin rendah dukungan kepada Ahok.

 

Namun penting dicatat, hanya yang “ekstrim”, yakni yang menyatakan “sangat setuju atas isu/pendapat tersebut, bisa mengalahkan Ahok, dan yang ekstrim itu cenderung mendukung Yusril.

 

Masalahnya, dalam populasi pemilih DKI Jakarta, warga yang bersikap ekstrim tersebut, ketika survei dilakukan, tidak besar: 12,3% untuk ekstrim agama, dan 4,1% untuk ekstrim etnik.

 

Pertanyaannya, apakah populasi yang “ekstrim” ini bisa diperbesar, bila bisa, maka tantangan bagi Ahok semakin besar.

 

4. Independen atau Parpol: Ahok Tetap Dipilih

 

Salah satu pertanyaan besar yang ada di benak public untuk petahana adalah apakah Ahok akan memutuskan tetap maju dari jalur independen atau melalui partai politik.

 

Dalam survey ini, kita membuat eksperimen khusus. Hasilnya memperlihatkan, secara umum pemilih tak mempersoalkan siapa yang akan mencalonkan Ahok, apakah Teman Ahok saja, Koalisi Partai saja, ataupun hanya satu partai saja, yakni partai yang bisa mencalonkan sendiri (tanpa koalisi), yakni PDI Perjuangan.

 

Bila Ahok menjadi calon, siapapun yang mencalonkannya, peluang Ahok terpilih jauh lebih besar dibanding calon-calon lainnya.  Ahok cenderung dipilih oleh mayoritas warga DKI kalau pemilihan diadakan ketika survei.

 

Bagi warga DKI tidak penting siapa yang mencalonkan Ahok, apakah relawan Teman Ahok saja, koalisi partai, atau hanya satu partai yang bisa mencalonkan tanpa koalisi, yakni PDI Perjuangan.

 

Yang penting Ahok menjadi calon, dan kemungkinan besar ia akan dipilih mayoritas ketika survei diadakan.

 

Tentu saja harus dicermati hingga hari H karena pemilih DKI dinamis, dan harus mempertimbangkan kejadian-kejadian apa yang akan terjadi hingga hari H nanti.

 

 

5. Faktor-faktor yang mempengaruhi peta dukungan

Dari hasil analisis regresi multinomial logit, yang berpengaruh secara signifikan terhadap dukungan kepada ketiga bakal lawan Ahok (Sjafrie Sjamsoeddin, Tri Rismaharini dan Yusril Ihza Mahendra) hanya ada dua variabel, yaitu penilaian terhadap kinerja Ahok sebagai gubernur petahana dan isu agama.

 

Penilaian positif atas kinerja Ahok sebagai petahana memperlemah dukungan kepada ketiga bakal lawan Ahok.

 

Sementara semakin setuju dengan opini/pendapat yang menyatakan Muslim tidak bisa dipimpin non-Muslim akan memperkuat dukungan kepada ketiga lawan Ahok.

 

Ada beberapa variabel lain yang berpengaruh signifikan kepada salah satu atau dua calon bakal lawan Ahok.

 

Umur dan pendidikan pemilih  berpengaruh positif pada Sjafrie Sjamsoeddin ketika ia bersaing dengan Ahok. Orang yang berpendidikan lebih baik dan lebih senior dari sisi umur cenderung memilih Sjafrie dibanding memilih Ahok, dan demikian juga sebaliknya.

 

Sementara itu, ketika persaingan terjadi antara Risma dan Ahok,  Penilaian terhadap kondisi ekonomi Jakarta dan pendidikan pemilih berpengaruh. Penilaian positif atas kondisi ekonomi DKI memperlemah Risma, dan sebaliknya memperkuat Ahok. Sementara pendidikan efek positifnya terhadap Risma.

 

Kalau persaingan antara Ahok dan Yusril, di samping isu agama dan kinerja petahana, jender juga berpengaruh. Pemilih laki-laki, dibanding perempuan, cenderung memilih Yusril ketimbang memilih Ahok, dan demikian juga sebaliknya.

 

6. Arah Dukungan Pemilih Partai

 

Jika pemilu dilakukan saat ini, PDI Perjuangan paling banyak dipilih (25,6%), kemudian Gerindra, PPP, PKS, Golkar, Demokrat, NasDem dan partai lain di bawah 3%.  Dibanding pileg 2014, dukungan kepada partai umumnya menurun.

 

Sejauh ini, pemilih partai sudah mempunyai kecenderungan kepada siapa dukungan akan diberikan.

 

Pemilih partai-partai yang sudah menyatakan mendukung Ahok, seperti Nasdem, Hanura, dan Golkar juga sudah condong memberikan dukungannya kepada Ahok. Pemilih Nasdem paling solid mendukung Ahok, kemudian Golkar dan Hanura.

 

Pemilih PDI Perjuangan, partai terbesar di Jakarta juga sementara ini cukup solid memberikan dukungan kepada Ahok.

 

Partai yang pemilihnya lebih banyak memilih calon lain adalah PPP, PKS dan PAN, ketiganya cenderung untuk memilih Yusril Ihza Mahendra. Ini menarik karena ketiganya adalah partai berbasis Islam.

 

Sementara pemilih PKB masih membagi dukungan sama besar kepada Ahok dan Yusril Ihza Mahendra.

 

Sentimen kepartaian dalam memilih biasanya akan lebih jelas bila partai sudah jelas mencalonkan siapa. Misalnya, PDI Perjuangan diberitakan akan memutuskan mendukung siapa dalam minggu ini. Dan itu dipastikan bisa mengubah dukungan kepada calon secara keseluruhan.

Hasil survei selengkapnya bisa dilihat di sini.

Komentar