Kualitas Demokrasi Dinilai Menurun di Pelbagai Negara

Seminar Internasional ‘The Problems of Democratic De-consolidation in the World’ pada 7 Agustus 2019 di Universitas Warmadewa, Bali.

66

SMRC bekerjasama dengan Comparative National Election Project (CNEP), Institute for Peace and Democracy (IPD), dan Universitas Warmadewa menggelar seminar internasional bertajuk ‘The Problems of Democratic De-consolidation in the World’ pada 7 Agustus 2019 di Universitas Warmadewa, Bali.

Dalam seminar ini sejumlah ilmuwan politik terkemuka dunia berbagi temuan-temuan riset mutakhir, ide, dan pandangan mereka tentang situasi politik dan demokrasi dunia dan sejumlah tantangannya.

Mereka adalah Paul A. Beck (Academy Professor of Political Science and Research Associate in the Mershon Center for International Security Studies at The Ohio State University), R. William Liddle (Professor Emeritus of Political Science and Research Associate in the Mershon Center for International Security Studies at Ohio State University), Pedro C. Magalhães (Principal Researcher at the Institute of Social Sciences of the University of Lisbon), Robert Mattes (Professor of Government and Public Policy at the University of Strathclyde), Richard Gunther (Professor Emeritus of Political Science at Ohio State University), dan I Ketut Putra Erawan (FISIP Warmadewa University).

Seminar ini diharapkan dapat memberikan tambahan inspirasi dan langkah-langkah untuk menghadapi tantangan politik dan demokrasi ke depan, khususnya di Indonesia. Peserta dari pemerintahan, politisi, akademisi, dan mahasiswa yang diundang tampak hadir dan terlibat dalam seminar ini.

Seminar dibagi menjadi 2 sesi. Sesi pertama menghadirkan 3 ilmuwan politik sebagai pembicara, yaitu Bob Mattes, Richard Gunther, dan Pedro Magalhaes. R. William Liddle menjadi keynote speech. Sesi kedua menghadirkan Paul Beck dan I Ketut Putra Erawan sebagai pembicara.

Pada sesi pertama Bob Mattes memaparkan materi presentasi yang ia beri judul “Popular Support for Democracy: Which Democrats? What Impacts?” Materi presentasi Richard Gunther berjudul “Are Democracies Deconsolidating? And if so, Why?” Lalu materi presentasi Pedro Magalhaes berjudul “Are ‘Democrats’ Liberal Democrats? Understandings of Democracy under Different Regimes”.

Bahasan yang mengemuka pada sesi pertama ini adalah sejumlah pemaknaan terhadap demokrasi dan apa saja yang diperlukan sebuah demokrasi untuk bertahan dan tumbuh. Misalnya, apakah demokrasi harus bermakna demokrasi liberal atau tidak. Juga bahwa demokrasi memerlukan hardware (institusi) dan software (budaya).

Bahasan lainnya pada sesi pertama adalah soal sejumlah fakta bahwa demokrasi di dunia mengalami sejumlah masalah berupa turunnya dukungan publik dan munculnya sejumlah elit yang tidak memiliki komitmen terhadap demokrasi, bahkan melakukan tindakan-tindakan yang melemahkan demokrasi.

Sejumlah faktor yang mempengaruhi komitmen dan dukungan terhadap demokrasi juga diidentifikasi. Yang mengemuka antara lain adalah status sosial ekonomi masyarakat dan tingkat kesenjangan ekonomi. Kelompok masyarakat dengan status sosial ekonomi rendah (miskin), menurut pembahasan ini, memiliki perbedaan komitmen terhadap demokrasi, baik di rezim demokrasi maupun di rezim otoriter.

Pada sesi kedua seminar dibahas tentang sejumlah fakta di beberapa negara Amerika dan Asia. Paul Beck membawakan presentasi yang ia beri judul “Trump’s Victory in the US and Beyond”.

Fenomena munculnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat dipandang sebagai contoh gamblang munculnya elit yang memiliki karakter sebagai seorang figur yang otoriter namun dapat terpilih menjadi pemimpin tertinggi sebuah negara demokrasi mapan. Dari Asia, studi kasus di negara demokrasi seperti Indonesia dan Kamboja, menunjukkan bahwa sejumlah masalah demokrasi itu memang sedang terlihat.

Bertahannya pemimpin otoriter yang berhasil meminggirkan lawan-lawannya, seperti di Kamboja, menjadi salah satu penghalang demokrasi untuk mengalami perkembangan. Di Indonesia yang sudah mengalami dua dekade demokratisasi, maraknya penggunaan politik identitas menjadi tantangan yang tidak mudah dan bisa saja menghambat dan menurunkan kualitas demokrasi.

Seminar ini menyimpulkan bahwa di berbagai negara ditemukan tanda-tanda pelemahan demokrasi. Tetapi pelemahan tersebut belum menjadi fenomena yang merata di semua negara demokrasi. Namun, bahwa demokrasi memang sedang mengalami tantangan adalah hal yang harus dihadapi dengan serius kalau tidak mau demokrasi mengalami krisis.

Sekedar catatan, keterlibatan penuh SMRC dalam seminar ini karena sebagai lembaga riset dan think tank, SMRC memiliki komitmen dan menyelenggarakan kegiatan yang bertujuan untuk ikut mendorong dan mengembangkan demokrasi di Indonesia dan kawasan Asia. Selain itu, pendiri sekaligus peneliti utama SMRC, Saiful Mujani, adalah anggota CNEP, lembaga kajian yang mengevaluasi dan identifikasi tantangan demokrasi di negara-negara demokratis.

Selanjutnya baca presentasi:

Pedro Magalhaes: Kesenjangan Ekonomi dan Status Quo Politik

Richard Gunther: Dekonsolidasi Demokrasi, Seberapa Mengancam?

Tinggalkan Komentar