Istirahat dari Media Sosial Sekeluarga Turunkan Rasa Cemas

Istirahat dari media sosial (Medsos) yang dilakukan bersama keluarga turunkan rasa cemas. Demikian temuan studi yang dilakukan Princeton University Amerika Serikat berkerja sama dengan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Hasil studi ini dipresentasikan melalui kanal Youtube SMRC TV, pada Minggu, 15 Maret 2026.

Professor Nicholas Kuipers dari Princeton University menjelaskan bahwa selama ini sudah banyak perdebatan tentang pengaruh penggunaan media sosial terhadap kesehatan mental. Namun belum ada studi yang benar-benar meyakinkan secara ilmiah apakah media sosial itu berpengaruh buruk, netral, atau baik terhadap kesehatan mental penggunanya. Studi ini untuk melihat hubungan kausal antara media sosial dan kesehatan mental penggunanya, termasuk soal rasa cemas.

Dalam rilis survei bertajuk “Efek Media Sosial terhadap Kesehatan Mental”, Direktur eksekutif SMRC, Deni Irvani, menyampaikan bahwa studi ini menggunakan metode eksperimental terhadap populasi pengguna media sosial di 30 ibukota provinsi di Indonesia. Sampel sebanyak 1502 responden dipilih secara acak (stratified multistage random sampling) dan diwawancara online 2 kali dalam bentuk panel. Wawancara pertama dilakukan ketika responden dalam keadaan biasa beraktivitas dengan medsos mereka. Kemudian responden-responden tersebut dibagi secara acak ke dalam 3 kelompok: 1) kelompok responden yang diminta untuk menghentikan penggunaan medsos setelah wawancara pertama sampai wawancara kedua (Kelompok T1), 2) kelompok responden yang diminta bersama-sama dengan semua anggota rumah tangga untuk tidak menggunakan medsos setelah wawancara pertama sampai wawancara kedua (Kelompok T2), 3) kelompok responden yang tetap dipersilakan menggunakan medsos seperti biasa sejak wawancara pertama sampai wawancara kedua (Kelompok Kontrol). Selang waktu wawancara 1 dan 2 selama 1 bulan. Wawancara 1 dilakukan pada 17 November – 15 Desember 2025, dan wawancara 2 dilakukan pada 16 Desember – 14 Januari 2026. Studi ini dibiayai oleh Princeton University.

Deni menunjukkan ada sekitar 11 persen warga yang mengaku selalu/sering tidak mampu menghentikan atau mengendalikan rasa khawatir, 46 persen kadang- kadang, 41 persen tidak pernah, dan ada 2 persen yang tidak menjawab. Sementara itu yang selalu/sering merasa gugup, cemas, atau gelisah ada 10 persen, yang kadang-kadang 53 persen, tidak pernah 35 persen, dan 2 persen tidak menjawab. Jika kedua item digabung sehingga membentuk skor dengan skala 0-100, di mana 0 berarti sangat tidak cemas dan 100 berarti sangat cemas, rata-rata skor rasa cemas warga adalah 24.5, yang berarti rendah. Mayoritas warga, 93 persen, memiliki rasa cemas yang rendah (skor 0- 50); sedangkan yang memiliki rasa cemas tinggi (skor di atas 50) jumlahnya sekitar 7 persen.

Dalam satu bulan, lanjut Deni, skor rasa cemas di kelompok Kontrol cenderung naik dari 24.3 di Survei pertama menjadi 25.0 di Survei kedua. Dalam periode yang sama, skor di Kelompok T1 cenderung turun dari 25.1 menjadi 23.7, dan skor di kelompok T2 turun dari 24.2 menjadi 22.3. Selisih skor rasa cemas antara kelompok T1 dan Kontrol berubah dari +0.8 di Survei 1 menjadi -1.3 di Survei 2 (turun 2.1 poin). Sementara selisih skor antara T2 dan Kontrol berubah dari -0.1 menjadi -2.7 (turun 2.6 poin).

Karena itu, Deni menyimpulkan bahwa deaktivasi atau istirahat dari media sosial, terutama jika dilakukan bersama semua anggota rumah tangga, terlihat berdampak menurunkan rasa cemas.

Video presentasi hasil survei bisa dilihat di sini: https://youtu.be/Xbqn_GbnAXU

Laporan lengkap survei bisa diakses di sini: https://saifulmujani.com/efek-media-sosial-terhadap-kesehatan-mental/

Popular