Sabtu, 22 Juni 2024

Penguatan PDI Perjuangan Berhubungan dengan Kondisi Ekonomi dan Kinerja Presiden

Penguatan dukungan pada Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan berhubungan dengan evaluasi positif publik atas kondisi ekonomi dan kinerja presiden Jokowi.

Demikian temuan studi yang dilakukan Prof. Saiful Mujani yang sampaikan pada program ’Bedah Politik bersama Saiful Mujani’ episode ”Kinerja Pemerintah dan Elektabilitas Partai” melalui kanal YouTube SMRC TV pada Kamis, 10 Agustus 2023.

Video utuh presentasi Prof. Saiful bisa disimak di sini: https://youtu.be/dTGYcLX7L5M

Saiful menjelaskan bahwa setelah sempat turun pada Pemilu 2009 (14 persen), suara PDI Perjuangan kembali naik pada Pemilu 2014 (18,9 persen) dan semakin menguat pada 2019 (19,3 persen). Suara partai Demokrat yang menurun tajam menjelang 2014 diserap lebih banyak oleh PDI Perjuangan. Menurut Saiful, banyak faktor yang bisa menjelaskan mengapa sebuah partai politik mengalami kemajuan elektabilitas. Namun dalam studi ini, jelas Saiful, ingin dilihat secara lebih khusus pengaruh kinerja pemerintah. Menjelang 2014, partai pemerintah SBY (Demokrat) ketika itu mengalami penilaian yang sangat negatif. Ketika itu muncul pemimpin alternatif yang bernama Joko Widodo. Tidak diketahui secara persis apakah Jokowi yang menyebabkan PDI Perjuangan menguat atau Jokowi menguat karena PDI Perjuangan. Namun yang pasti, kata Saiful, keduanya berasosiasi.

Menurut Saiful, hubungan atau asosiasi antara elektabilitas PDI Perjuangan dengan presiden Jokowi berlanjut sampai hari ini. Tingkat kepuasan publik pada kinerja presiden Jokowi terus positif dan sangat tinggi, rata-rata di atas 70 persen. Bersamaan dengan itu, elektabilitas PDI Perjuangan juga mengalami penguatan, bahkan mencapai 28 persen di Juli 2023. Belum diketahui hasil nanti 2024, namun setidaknya sekarang elektabilitas PDI Perjuangan sangat kuat dan cukup jauh bedanya dengan partai lain. Salah satu penjelasannya mungkin karena berhubungan dengan penilaian positif terhadap kinerja presiden dan terhadap kinerja pemerintah.

Bagi masyarakat dan secara teoritis, lanjut Saiful, kinerja pemerintah lebih banyak berhubungan dengan ekonomi. Kalau kondisi ekonomi dinilai positif maka itu akan diasosiasikan dengan pemerintah yang juga positif dan pemerintah yang positif tersebut akan diasosiasikan dengan partai pendukung pemerintah.

Saiful menyatakan bahwa ada banyak partai pendukung pemerintah. Tapi di antara partai-partai pendukung pemerintah tersebut ada degree kedekatannya dengan pemerintah. Di antara 7 partai pendukung pemerintah, PDI Perjuangan mungkin yang paling atas dalam hirarki dukungan pada pemerintahan tersebut. Karena itu, kemungkinan besar mereka yang paling banyak mendapatkan keuntungan elektoral.

Survei SMRC, Juli 2023, menunjukkan ada 30,8 persen yang menyatakan kondisi ekonomi nasional sekarang baik atau sangat baik, yang menyatakan buruk atau sangat buruk 23,6 persen, dan sedang 44,9 persen. Dari 30,8 persen yang menyatakan baik atau sangat baik itu, 38 persen di antaranya memilih PDI Perjuangan. Sementara dari 23,6 persen yang menyatakan buruk atau sangat buruk hanya 19 persen yang memilih PDI Perjuangan.

“Ada asosiasi yang sangat positif antara penilain warga pada kondisi ekonomi dengan elektabilitas PDI Perjuangan,” ungkap pendiri SMRC tersebut.

Pada partai-partai lain pendukung pemerintah, asosiasi tersebut tidak terlihat, misalnya pada Gerindra. Yang menilai positif kondisi ekonomi 15 persen akan memilih Gerindra. Sementara yang menilai negatif kondisi ekonomi, memilih Gerindra 19 persen. Justru mereka yang menilai kondisi ekonomi negatif lebih banyak yang memilih Gerindra dibanding dengan yang memiliki penilaian positif.

Menurut Saiful, dilihat dari pemilihnya, Gerindra belum sepenuhnya menjadi partai pendukung pemerintah. Warga yang tidak puas pada kinerja pemerintah masih cenderung memilih Gerindra. Kalau mereka full dalam koalisi pemerintah, mestinya seperti PDI Perjuangan, di mana yang memberi penilaian positif terhadap kondisi ekonomi cenderung akan memilih partai tersebut.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berkebalikan dengan PDI Perjuangan. Hanya ada 3 persen yang menyatakan kondisi ekonomi nasional baik atau sangat baik akan memilih PKS. Sementara yang menilai kondisi ekonomi buruk atau sangat buruk, 8 persen memilih PKS.

“Penilaian baik pada kondisi ekonomi memiliki efek positif pada PDI Perjuangan dan negatif pada PKS,” jelas Saiful.

Saiful menegaskan bahwa elektabilitas PDI Perjuangan yang menguat secara konsisten tidak bisa dipisahkan dari penilaian publik yang positif pada kondisi ekonomi.

Dalam survei Juli 2023, SMRC menemukan tingkat kepuasan publik pada kinerja presiden Jokowi mencapai 77,3 persen. Dari yang puas atas kinerja presiden tersebut, 32 persen akan memilih PDI Perjuangan. Sementara dari 20,4 persen yang kurang puas, hanya 16 persen di antaranya yang memilih PDI Perjuangan. Sebaliknya pada PKS. Yang menyatakan tidak puas pada kinerja presiden, 11 persen memilih PKS, sementara yang puas dengan kinerja Jokowi, hanya 2 persen yang memilih partai tersebut. Sementara pada partai-partai lain tidak terlihat efeknya secara signifikan.

Saiful menjelaskan bahwa efek kinerja pemerintah dan presiden Jokowi terlihat pada elektabilitas PDI Perjuangan dan PKS. Penilaian positif pada kinerja Jokowi memperkuat PDI Perjuangan dan memperlemah PKS, demikian sebaliknya. Sementara di partai-partai lain tidak punya pengaruh signifikan.

“Dilihat dari pola ini, mengapa PDI Perjuangan menguat tidak bisa dipisahkan dari penilaian positif terhadap kondisi ekonomi dan kepuasan terhadap kinerja presiden Jokowi,” pungkasnya.

Populasi survei ini adalah seluruh warga negara Indonesia yang punya hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang sudah berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan. Dari populasi itu dipilih secara random (multistage random sampling) 1220 responden.  Response rate (responden yang dapat diwawancarai secara valid) sebesar 1041 atau 86%. Sebanyak 1041 responden ini yang dianalisis. Margin of error survei dengan ukuran sampel tersebut diperkirakan sebesar ± 3,1% pada tingkat kepercayaan 95% (asumsi simple random sampling). Responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih. Waktu wawancara lapangan 16- 23 Juli 2023.

RELATED ARTICLES

Terbaru