Prabowo dan Dokter Dapat Menaikkan Kesediaan Warga untuk Divaksinasi

23

Survei eksperimen Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menemukan bahwa Prabowo Subianto dan sosok dokter dapat menjadi faktor penting untuk meningkatkan kesediaan masyarakat menerima vaksinasi COVID-19.

Dalam survei nasional tersebut, ditemukan bahwa kesediaan warga untuk melakukan vaksinasi jika tahu bahwa dokter dan Prabowo sudah divaksin masing-masing mencapai 74% dan 73%.

Di sisi lain, sosok Jokowi, pimpinan partai secara umum, tokoh agama, dan tokoh adat tak terlalu kuat untuk meningkatkan jumlah warga yang bersedia untuk divaksin.

Hanya sekitar 66% warga yang bersedia divaksin jika tahu Jokowi sudah divaksin, 53% warga bersedia jika tahu ketua partai politik sudah divaksin, 60% warga bersedia jika tahu tokoh agama sudah divaksin, dan 65% warga bersedia jika tahun tokoh adat sudah divaksin.

Temuan itu disampaikan Direktur Riset SMRC, Deni Irvani, dalam hasil survei bertajuk “Efek Tokoh dan Otoritas Kesehatan pada Intensi Warga untuk Divaksinasi: Survei Eksperimental” yang dirilis secara daring pada Senin, 29 Maret 2021, di Jakarta.

Survei eksperimen berskala nasional itu dilakukan pada 23-26 Maret 2021 dengan melibatkan 1401 responden yang dipilih secara acak. Desain eksperimen diterapkan dengan membagi sampel kedalam 7 kelompok secara acak (1 kelompok kontrol dan 6 kelompok treatment) dan setiap kelompok mendapat satu pertanyaan yang berbeda dengan kelompok lainnya. Wawancara dengan responden dilakukan lewat telepon.

Menurut Deni, besarnya pengaruh dokter nampaknya terjadi karena dokter adalah otoritas kesehatan. “Dokter adalah otoritas kesehatan dan karenanya bisa meningkatkan kepercayaan bahwa vaksin aman bagi kesehatan,” ujar Deni.

Terkait Prabowo, Deni menganggap itu terjadi karena warga nampaknya masih terbelah secara politik sebagai akibat dari pilpres 2019 meskipun Prabowo sendiri sudah masuk kabinet.

Menurut Deni, survei menunjukkan bahwa kesediaan melakukan vaksinasi di kalangan pemilih Prabowo hanya 46%, jauh di bawah pemilih Jokowi (71%).

Namun begitu dikatakan bahwa Prabowo sudah divaksin, persentase pemilih Prabowo yang mau divaksin ternyata meningkat dari 46% menjadi 67%.

“Ini menunjukkan Prabowo menjadi teladan bagi pendukungnya bukan hanya dalam politik,” ujar Deni, “tapi juga dalam hal perilaku terkait kesehatan seperti kesediaan untuk divaksin ini.”

Temuan ini bisa dimanfaatkan pemerintah dalam rangka menaikkan kesediaan masyarakat untuk divaksinasi.

“Data ini menunjukkan pemerintah perlu menampilkan dokter dan Prabowo sebagai tokoh yang sudah divaksin agar tingkat kesediaan masyarakat bisa meningkat,” ujar Deni.

Survei eksperimen ini sendiri dilakukan mengingat temuan survei nasional SMRC yang dilakukan secara tatap muka pada 28 Februari-8 Maret 2021 lalu menunjukkan bahwa warga yang potensial bersedia divaksin COVID-19 hanya sekitar 61%.

“Proporsi ini masih di bawah target vaksinasi terhadap minimal 70% warga untuk bisa mencapai herd immunity nasional,” ujar Deni.

Menurut Deni, banyak pihak percaya bahwa figur yang dihormati oleh masyarakat merupakan salah satu faktor penting yang dapat berpengaruh terhadap kesediaan warga melakukan vaksinasi. Karena itulah, SMRC berusaha mempelajari siapa tokoh yang mungkin berpotensi meningkatkan kesediaan masyarakat untuk divaksin.

SMRC menemukan, secara umum, jika vaksin COVID-19 sudah tersedia, ada 62.4% warga yang bersedia divaksin, 27.2% tidak pasti mau divaksin, dan 10.3% tidak menjawab.

Ketika diuji apakah penyebutan nama-nama tertentu berdampak pada kesediaan divaksin, hasilnya beragam.

Jika tahu Presiden Jokowi sudah divaksin, ada 66.4% yang pasti mau divaksin, 23.4% tidak pasti mau divaksin, dan 10.2% tidak menjawab.

Jika tahu Prabowo Subianto sudah divaksin, ada 73.3% yang pasti mau divaksin, 20.8% tidak pasti mau divaksin, dan 5.9% tidak menjawab.

Jika tahu ketua partai yang didukung sudah divaksin, ada 53.1% yang pasti mau divaksin, 36.4% tidak pasti mau divaksin, dan 10.5% tidak menjawab.

Jika tahu dokter sudah divaksin, ada 73.6% yang pasti mau divaksin, 20.2% tidak pasti mau divaksin, dan 6.3% tidak menjawab.

Jika tahu tokoh agama sudah divaksin, ada 60.2% yang pasti mau divaksin, 27.8% tidak pasti mau divaksin, dan 12% tidak menjawab.

Jika tahu tokoh adat atau suku sudah divaksin, ada 65.1% yang pasti mau divaksin, 25.5% tidak pasti mau divaksin, dan 9.4% tidak menjawab.

Hasil survei selengkapnya bisa dibaca di sini.

Tinggalkan Komentar