Dekonsolidasi Demokrasi: Seberapa Mengancam?

Seminar Internasional ‘The Problems of Democratic De-consolidation in the World’ pada 7 Agustus 2019 di Universitas Warmadewa, Bali

101

Perbincangan mengenai menurunnya kualitas demokrasi secara global telah mengemuka beberapa tahun belakangan ini. Tahun 2015, misalnya, Journal of Democracy, menurunkan edisi khusus bertajuk ‘Is Democracy in Decline?’ Laporan-laporan serupa muncul secara berkala di laman Freedom House. Pertanyaannya bukan sekadar apakah demokrasi benar meredup, melainkan juga tentang seberapa meredup, dan apa indikator meredupnya cahaya kebebasan politik itu?

Richard Gunther dari Departemen Ilmu Politik, The Ohio State University, Amerika Serikat, memberi jawaban komprehensif. Dalam seminar sehari yang digelar Saiful Mujani Reseach and Consulting (SMRC) dan CNEP di Uuversitas Warmadewa, Bali, 7 Agustus 2019, dia memaparkan fakta seputar perkembangan demokrasi lintas benua.

Untuk membuktikan apakah demokrasi itu menurun atau meningkat, Gunther menggunakan data dari survei opini publik. Dukungan publik pada sistem demokrasi dibandingkan dengan dukungan pada sistem selain demokrasi. Ada tiga pernyataan di mana responden diminta untuk memilih. Pertama, “dibanding dengan sistem pemerintahan yang lain, demokrasi adalah sistem pemerintahan terbaik.” Kedua, “Dalam situasi tertentu, rezim otoritarian atau diktator, bisa dibenarkan.” Ketiga, “untuk orang seperti saya, semua sistem politik tak ada bedanya.”

Survei dari pelbagai negara dengan pertanyaan yang sama ini menunjukkan bahwa preferensi pada demokrasi (dukungan pada pernyataan pertama) bervariasi mulai dari yang tertinggi di Spanyol (87%) sampai yang terendah di Honduras (34%).

Dari data yang dikumpulkannya, Prof. Gunther menyimpulkan bahwa walaupun jumlah negara yang mengalami penurunan preferensi pada demokrasi lebih banyak dari yang mengalami peningkatan, tapi sebenarnya tidak ditemukan gejala penurunan secara umum di semua negara demokratis. Dari total 52 negara demokratis yang diteliti, 14 negara mengalami peningkatan dukungan pada demokrasi, 8 negara tidak berubah, dan 30 negara yang mengalami kemunduran dukungan.

Data-data itu juga menunjukkan bahwa dukungan pada demokrasi masih dominan datang dari negara-negara di Eropa Barat (79%), disusul Afrika (67%). Sementara di kawasan Asia Timur, Amerika Latin dan Eropa Timur, rata-rata dukungan publik pada demokrasi sekitar 56%.

Namun begitu, guru besar ilmu politik ini mengingatkan bahwa lamanya pengalaman berdemokrasi tidak menjamin besarnya dukungan pada sistem tersebut. Tiga negara Eropa Barat yang baru ikut dalam ‘Gelombang Ketiga’ demokrasi, meminjam istilah Samuel Huntington, yakni Spanyol, Yunani dan Portugal, secara signifikan memiliki preferensi demokrasi lebih tinggi dari

negara-negara dengan rezim demokrasi yang lebih tua dan mapan seperti America Serikat, Inggris, Jerman, Prancis dan Italia.

Lebih jauh, Gunther menunjukkan bahwa penurunan dukungan pada demokrasi terparah terjadi di wilayah Amerika Latin. Di wilayah itu, dukungan pada demokrasi mengalami kemunduran sebesar 8 persen. Bandingkan, misalnya, dengan Amerika Serikat 6 persen, Eropa Barat sebanyak 5 persen, dan Asia Timur 4 persen. Benua Afrika tercatat menjadi wilayah dengan kemunduran dukungan pada demokrasi terendah, yakni sebesar 2 persen.

Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa dukungan pada demokrasi di suatu wilayah meningkat, sementara di tempat lain tidak, bahkan malah menurun? Prof. Gunther menemukan bahwa ada banyak variasi faktor yang menyebabkan naik turunnya dukungan publik pada demokrasi. Masing-masing negara memiliki kasus yang berbeda. Secara umum, munculnya figur dan partai yang membawa suara anti-demokrasi memiliki pengaruh dalam meredupnya preferensi publik atas demokrasi ini.

Di tengah tantangan yang tidak sederhana itu, Prof. Gunther percaya bahwa untuk jangka panjang, modernisasi dan peningkatkan pendidikan secara gradual akan mengangkat kembali dukungan publik pada sistem politik demokratis. Apakah anda sependapat? [SAIDIMAN]

Tinggalkan Komentar