Dorita Setiawan: Pemerintah dan DPR Perlu Lakukan Pemetaan Hyper-Mikro dan Management Resiko untuk Menangkap Permasalah Pendidikan

71

Presentasi Dorita Setiawan Ph.D menanggapi rilis survei SMRC: Asesmen publik tentang pendidikan online di masa Covid-19, 18 Agustus 2020. Dorita Setiawan adalah Manajer Institutional Research and Effectiveness di Sampoerna University.

 

Terima kasih. Siang hari ini kita melihat survey yang sangat penting yang dilakukan oleh SMRC.

Pada saat yang baik ini saya ada 3 hal yang ingin saya bagikan:

Pertama adalah tentang tanggapan saya terhadap survey yang dilakukan oleh SMRC. Respon saya terhadap survey SMRC ini, saya ingin mengungkapkan apresiasi saya yang sangat besar karena lagi-lagi—tadi sudah ada yang mengatakan—bahwa ini survey yang sangat penting.

Karena akhirnya kegelisahan dan kekhawatiran kita selama ini akhirnya ada datanya, ada angkanya, dan datanya itu mengkonfirmasi, sebenarnya masalah yang kita hadapi selama ini seperti apa,

Ketika kita melakukan atau mengalami pembelajaran online selama masa pandemi.

Namun tentunya, ketika kita bicara masalah pembelajaran online selama covid-19, kita juga memahami bahwa sebenarnya survey ini menangkap gambaran umum dari puncak gunung es. Yang sebenarnya banyak sekali yang ada, tidak hanya sekedar faktor ekonomi atau infrastruktur-teknologi seperti yang dikatakan pada latar belakang tadi, ibu Tati bagikan pada kita.

Saya melihat dari survey ini bahwa kita memerlukan data-data lebih mendalam tentang apa sih kendala dari pembelajaran online selama covid-19 ini, khususnya misalnya, disasar kepada anak didik mahasiswa, apa yang mereka rasakan.

Yang kedua, mungkin ada juga survey terpisah atau assessment terpisah kepada mereka yang terlibat dalam pendidikan online, tentunya ada kepala sekolah, ada guru, ada pembimbing, dan yang paling penting adalah orang tua. Karena dari survey ini sudah terlihat bahwa paling tidak ada 5 persen dari responden yang adalah mahasiswa atau anak didik. Kalau 17 tahun keatas mungkin mahasiswa ya.

Dan selanjutnya ada 70 persen dari responden survey ini yang memiliki hubungan mereka yang masih mengambil kelas online, tapi tidak jelas apakah mereka orang tua, apakah guru-guru. Jadi akan membantu sekali mungkin nanti ada survey lebih lanjut yang bisa dilakukan oleh semua orang tentunya karena sudah dimulai langkah besar oleh SMRC. Untuk memperlihatkan bagaimana sebenarnya apa yang bisa dilakukan, dan sebenarnya masalahnya seperti apa.

Itu tanggapan saya terhadap survey SMRC yang sangat penting ini.

Poin kedua, saya ingin berbagi tentang pengalaman yang ada di kampus kami. Dan terkait itu, poin ketiga, apa yang bisa dilakukan untuk melangkah kedepan.

Pengalaman saya di Sampoerna University pertama adalah:

Satu, apa yang menyelamatkan kita.

Pertama adalah kami memiliki learning management system, mungkin banyak hal yang dilakukan juga oleh kampus-kampus lain, Dan itu sangat membantu karena dari awal kami sudah memiliki sistem bagaimana mengatur, bagaimana memastikan atau men-track mahasiswa-mahasiswa yang bermasalah selama memiliki—selama mengalami, atau menjalani, pembelajaran daring ini, hingga apa saja yang harus dilakukan. Jadi ketika kami melakukan , memiliki LMS, atau learning management system ini, ini terlepas dari ada pandemik atau tidak ada pandemik, ada pertemuan yang online atau tidak. Dari awal sudah jelas seperti apa pembelajaran untuk satu tahun kedepan.

Tentunya ketika kita ngomongin pembelajaran kita tidak hanya ngomongin tentang silabus. Tapi kita ngomongin apa saja yang menjadi keperluan atau kebutuhan mahasiswa, atau anak didik, ketika mereka belajar. Misalnya, pada covid ini yang paling tinggi adalah—fungsi yang paling tinggi dari learning management system itu adalah kami bisa melihat anak-anak yang bermasalah, yang membutuhkan perhatian lebih, misalnya, kami menyediakan consoling langsung di-link kepada fasilitas pembelajaran yang ada atau fasilitas mahasiswa, dan juga tutoring. Karena sudah jelas dari bebagai pertemuan perkuliahan daring ini ada yang membutuhkan penanganan khusus, karena ada subjek-subjek, atau mata kuliah, atau mata pelajaran, yang tidak bisa benar-benar dihantarkan lewat daring.

Jadi dengan LMS ini kami bisa—jadi isunya tidak duduk di zoom atau bertemu, duduk di depan komputer selama 2 jam atau 4 jam, dan duduk gitu. Jadi tidak—pertemuan-pertemuan online itu tidak seberapa penting, karena yang paling penting engagement. Bagaimana mahasiswa bisa engage dalam proses belajar, dan mereka mandiri, jadi dari A sampai Z selama satu semester sudah jelas apa yang harus dilakukan. Dan kami bisa men-track secara personal karena yang dimiliki kampus kami itu sudah institusional, jadi tidak lagi perorangan. Jadi dari kampus sudah tahu bagaimana standarisasinya dan mengawasinya secara berkala.

Tapi tentu saja ketika pandemik terjadi ini sangat-sangat tiba-tiba dan kami benar-benar harus melakukan adaptasi yang begitu banyak. Salah satunya seperti yang sudah dibagikan atau yang dikemukakan bu Tati lewat data-datanya,

Di kasus kami ada masalah-masalah yang sangat teknis, seperti koneksi internet, atau bahkan punya hard drive pun tidak, karena tadi terlihat dari survey gadget yang paling banyak digunakan adalah handphone.

Kami mungkin memiliki fasilitas, saya juga ikut berempati, mungkin yang tidak miliki oleh institusi lain.

Tapi saya ingin mengatakan bahwa pandemik ini mendatangkan tantangan yang begitu berganda tidak hanya masalah kurikilum tapi juga masalah bagaimana mahasiswa atau anak didik bisa mendapatkan pembelajaran yang seharusnya.

Tapi tentunya sebaik-baiknya kurikulum kalau memang para pengajar atau fasilitatornya juga tidak dibekali itu sama saja bohong, karena bad teaching is bad teaching. Kalau memang sebagus-bagusnya kurikulum, kalau memang tidak bisa dihantarkan sama saja bohong. Jadi yang kami lakukan disini adalah melakukan training berkala untuk bagaimana caranya untuk menyajikan pembelajaran secara sederhana yang lebih detail tapi juga bisa dilakukan mahasiswa,

Isu lain tidak selalu terkoneksi dengan internet. Kami tentunya melakukan survey, survey terhadap mahasiswa, karena mahasiswa kami ini tersebar dari Aceh sampai Merauke, dan mereka juga tadinya tinggal di Jakarta, tapi lama-lama karena sudah 6 bulan ini mereka kan harus pulang.

Jadi kami juga ketika melihat data-data yang sudah dibagikan itu sangat, menurut kami, sangat relevan;

“oh ya ternyata betul mereka sangat bermasalah dengan koneksi internet.”

Point terakhir, apa sih langkah-langkah kedepan yang mungkin, yang bisa saya rekomendasikan pada saat yang baik ini.

Pertama adalah, mungkin pertanyaannya itu tapi menurut saya bukan tentang buka atau tutup sekolah,

Karena tentu saja yang menjadi concern pertama kenapa sekolah ditutup adalah karena wabah.

Karena kita bicara tentang bagaimana pandemik ini menyerang, dan kita memastikan bahwa anak didik, mahasiswa, dan semua yang terlibat itu selamat.

Jadi mungkin untuk pemerintah karena ada pak Totok (Kemdikbud) dan bu Hetifah (DPR Komisi X) disini, mungkin bisa bagaimana merancang kebijakan yang mungkin meminta atau memberi discretion. Namanya hyper-micro—menggunakan bahasa mas menteri—untuk melakukan survey tidak hanya sekolah, tapi juga orang tua.

Jadi orang tua disurvey sebenarnya seperti apa keinginannya, karena selama ini yang terjadi adalah, karena ada beberapa contoh soal sekolah yang sudah buka,

Yang terjadi adalah orang tua diberikan form yang menyatakan “oke kita sudah tahu akan membuka sekolah dan apapun yang terjadi itu diluar tanggung jawab sekolah”

Yang akhir sebenarnya yang menjadi masalah adalah tidak adanya manajemen resiko, sebenarnya kalau mau dibuka ini protokol kesehatannya mau ditutup, ini yang menjadi pertimbangannya. Karena selama ini yang menjadi titik beratnya adalah “oke kita benar-benar berat, kita makanya harus membuka” tapi tidak dikomunikasikan bagaimana ancaman-ancaman yang ada,

Apalagi misalnya, angkanya belum turun, zonasinya masih oke, misalnya oke boleh zonasi yang hijau buka,

Tapi apakah ada pemetaan secara micro untuk melihat bagaimana kasus, bagaimana tes yang sudah ada apa belum. Bagaimana misalnya lokasi sekolah, lokasi sekolah sekarang sudah ada di zona hijau maka dibuka. Tapi apakah dibahas tentang mahasiswa atau anak didik atau guru yang terlibat dalam sekolah. Mereka mungkin sekolah mereka di zona hijau, tapi mereka tinggal di zona merah. Terus kita harus melihat bagaimana transportasinya antara zona, apakah ini sudah selamat, sudah bisa, dan kontak guru dengan orang lain, atau kontak murid dengan yang lain ketika mungkin sudah hijau. Tapi mungkin mereka berhubungan dengan yang lain.

Jadi saya melihat bahwa, ada yang paling penting adalah bagaimana kita berkomunikasi ancaman tidak hanya benefit.

Yang terakhir adalah, lagi-lagi kita tidak bicara tentang teknologi infrastruktur, karena kami sudah memberikan misalnya paket internet dan bahkan hard drive untuk beberapa mahasiswa. Tapi tetap saja isunya lebih dari itu karena misalnya tadi tidak akan tergantikan pertemuan langsung. Interaksi langsung sesama, bagaimana pure learning, belajar bersama itu tidak tergantikan dengan online learning.

Dan makanya masa pandemik ini angka mahasiswa atau anak didik kami yang merasakan bahwa yang namanya mental health atau masalah kejiwaan itu benar-benar real. Karena sepi atau mereka terlalu intens berhubungan dengan orang tua.

Yang terakhir, kami mungkin ingin berbagi bahwa apapun keputusan dari sekolah atau pemerintah dalam hal ini untuk membuka atau menutup sekolah dan mungkin pembelajaran, atau hybrid sekalipun, itu harus diperhatikan secara comprehensive, mungkin kita harus lihat lagi sebenarnya apa sih yang dibutuhkan,

Karena kita ketika bicara tentang kurikulum, kita tidak bisa melepaskan juga di sisi-sisi lain seperti psiko-sosial. Ada beberapa mahasiswa yang bilang sekolah itu tidak hanya untuk sekolah, tapi itu tempat aman untuk saya.

Mungkin ketika pandemi ini ada kejadian atau ada masalah-masalah yang lain diluar ekspektasi.

Saya ada data yang bisa saya bagikan, salah satunya yang terpenting bila apapun nanti keputusannya, terpenting ketika mereka tetap harus dirumah yaitu:

Pertama mereka merasa tetap terhubung satu sama lain karena tidak hanya dikasih tugas terus lalu dibiarkan,

Tapi mereka merasa terhubung, mereka merasa tetap terdukung, proses belajar mereka,

Dan saya tidak bisa melepaskan ketika ini ada wabah kita harus melihatnya sebagai ada manajemen resiko yang harus kita lakukan, memitigasi apa saja kerugian-kerugian.

Salah satunya, tadi mungkin saya hanya baca singkat saja, mereka sangat kesulitan karena mereka merasa tidak bisa bertatap muka langsung. Mereka merasa jauh dari semuanya ketika mereka harus di rumah. Dan ketika mereka harus di rumah mereka merasa harus ada prioritas yang mereka harus kalahkan, tidak hanya harus kuliah. Yang mungkin paling menarik adalah manajemen waktu, ini mungkin berbeda skalanya ketika anak didiknya umurnya lebih muda, tapi time management itu harus salah satu concern.

Fasilitas apa saja ketika belajar, misalnya tadi ada yang mengatakan, penyederhanaan kurikulum. Itu sudah dilakukan sedemikian rupa agar yang penting tetap belajar dan tujuan dari pembelajaran itu tetap kita bisa dapatkan.

Terus tadi juga karena memang belajar di rumah tentu saja beda ketika belajar di sekolah atau di kampus.

Jadi ada berbagai macam lapisan-lapisan masalah yang mungkin kita lihat prioritasnya kemana, tapi yang jelas dari mendengarkan penjelasan pak Toto, bu Tifah, dan didukung data dari SMRC, saya melihat bahwa,

Apapun outcome-nya, apapun nantinya keputusannya, saya tahu, benar-benar percaya, kepada wakil rakyat kita, kepada pemerintah, bahwa ini kita bicara tentang generasi masa depan.

Dan ketika kita melakukan sesuatu kita yang dengar adalah semua orang, dan tadi saya mendengar kita harus melihat dari hyper-micro, hyper, hyper, lagi.

Ternyata saya tidak menduga saya mendengar dari pemangku kepentingan yang lebih besar, saya pikir “oh ini mungkin dari level yang lebih,”

Ternyata itu sudah menjadi pembahasan juga ketika ingin menentukan kebijakan.

Jadi sekali lagi saya terima kasih, akhirnya kita mudah-mudahan ada jalan terang.

Untuk menutup, saya berterima kasih kepada SMRC, kepada para panelis; bu Tati, bu Hetifah, Pak Totok, dan bung Saidiman,

Yang kita berurun rembug, sama-sama memikirikan sebagai “apa sih yang paling penting dari ini semua,” dan kita melakukannya dengan hati-hati dan benar-benar.

At the end of day, pada akhirnya mereka lebih penting dari semuanya.

 

Oke, sekali lagi saya ingin mengungkapkan apresiasi saya pada SMRC, kepada wakil rakyat kita—bu Hetifah—dan juga dari pemerinta—pak Totok—yang hadir dan semua yang ada disini,

kita maju kedepan untuk sama-sama bahwa: “we are in this together.”

Jadi semua merasa punya kontribusi, semua merasa bahwa ini adalah masalah bersama,

Dan mudah-mudahan this shall to pass, semuanya ini akan lepas, semuanya ini akan selesai.

Terimakasih SMRC, terimakasih mas Saidiman, pak Totok, bu Hetifah, bu Tati, dan semuanya.

Terima kasih. Siang hari ini kita melihat survey yang sangat penting yang dilakukan oleh SMRC.

Pada saat yang baik ini saya ada 3 hal yang ingin saya bagikan:

Pertama adalah tentang tanggapan saya terhadap survey yang dilakukan oleh SMRC. Respon saya terhadap survey SMRC ini, saya ingin mengungkapkan apresiasi saya yang sangat besar karena lagi-lagi—tadi sudah ada yang mengatakan—bahwa ini survey yang sangat penting.

Karena akhirnya kegelisahan dan kekhawatiran kita selama ini akhirnya ada datanya, ada angkanya, dan datanya itu mengkonfirmasi, sebenarnya masalah yang kita hadapi selama ini seperti apa,

Ketika kita melakukan atau mengalami pembelajaran online selama masa pandemi.

Namun tentunya, ketika kita bicara masalah pembelajaran online selama covid-19, kita juga memahami bahwa sebenarnya survey ini menangkap gambaran umum dari puncak gunung es. Yang sebenarnya banyak sekali yang ada, tidak hanya sekedar faktor ekonomi atau infrastruktur-teknologi seperti yang dikatakan pada latar belakang tadi, ibu Tati bagikan pada kita.

Saya melihat dari survey ini bahwa kita memerlukan data-data lebih mendalam tentang apa sih kendala dari pembelajaran online selama covid-19 ini, khususnya misalnya, disasar kepada anak didik mahasiswa, apa yang mereka rasakan.

Yang kedua, mungkin ada juga survey terpisah atau assessment terpisah kepada mereka yang terlibat dalam pendidikan online, tentunya ada kepala sekolah, ada guru, ada pembimbing, dan yang paling penting adalah orang tua. Karena dari survey ini sudah terlihat bahwa paling tidak ada 5 persen dari responden yang adalah mahasiswa atau anak didik. Kalau 17 tahun keatas mungkin mahasiswa ya.

Dan selanjutnya ada 70 persen dari responden survey ini yang memiliki hubungan mereka yang masih mengambil kelas online, tapi tidak jelas apakah mereka orang tua, apakah guru-guru. Jadi akan membantu sekali mungkin nanti ada survey lebih lanjut yang bisa dilakukan oleh semua orang tentunya karena sudah dimulai langkah besar oleh SMRC. Untuk memperlihatkan bagaimana sebenarnya apa yang bisa dilakukan, dan sebenarnya masalahnya seperti apa.

Itu tanggapan saya terhadap survey SMRC yang sangat penting ini.

Poin kedua, saya ingin berbagi tentang pengalaman yang ada di kampus kami. Dan terkait itu, poin ketiga, apa yang bisa dilakukan untuk melangkah kedepan.

Pengalaman saya di Sampoerna University pertama adalah:

Satu, apa yang menyelamatkan kita.

Pertama adalah kami memiliki learning management system, mungkin banyak hal yang dilakukan juga oleh kampus-kampus lain, Dan itu sangat membantu karena dari awal kami sudah memiliki sistem bagaimana mengatur, bagaimana memastikan atau men-track mahasiswa-mahasiswa yang bermasalah selama memiliki—selama mengalami, atau menjalani, pembelajaran daring ini, hingga apa saja yang harus dilakukan. Jadi ketika kami melakukan , memiliki LMS, atau learning management system ini, ini terlepas dari ada pandemik atau tidak ada pandemik, ada pertemuan yang online atau tidak. Dari awal sudah jelas seperti apa pembelajaran untuk satu tahun kedepan.

Tentunya ketika kita ngomongin pembelajaran kita tidak hanya ngomongin tentang silabus. Tapi kita ngomongin apa saja yang menjadi keperluan atau kebutuhan mahasiswa, atau anak didik, ketika mereka belajar. Misalnya, pada covid ini yang paling tinggi adalah—fungsi yang paling tinggi dari learning management system itu adalah kami bisa melihat anak-anak yang bermasalah, yang membutuhkan perhatian lebih, misalnya, kami menyediakan consoling langsung di-link kepada fasilitas pembelajaran yang ada atau fasilitas mahasiswa, dan juga tutoring. Karena sudah jelas dari bebagai pertemuan perkuliahan daring ini ada yang membutuhkan penanganan khusus, karena ada subjek-subjek, atau mata kuliah, atau mata pelajaran, yang tidak bisa benar-benar dihantarkan lewat daring.

Jadi dengan LMS ini kami bisa—jadi isunya tidak duduk di zoom atau bertemu, duduk di depan komputer selama 2 jam atau 4 jam, dan duduk gitu. Jadi tidak—pertemuan-pertemuan online itu tidak seberapa penting, karena yang paling penting engagement. Bagaimana mahasiswa bisa engage dalam proses belajar, dan mereka mandiri, jadi dari A sampai Z selama satu semester sudah jelas apa yang harus dilakukan. Dan kami bisa men-track secara personal karena yang dimiliki kampus kami itu sudah institusional, jadi tidak lagi perorangan. Jadi dari kampus sudah tahu bagaimana standarisasinya dan mengawasinya secara berkala.

Tapi tentu saja ketika pandemik terjadi ini sangat-sangat tiba-tiba dan kami benar-benar harus melakukan adaptasi yang begitu banyak. Salah satunya seperti yang sudah dibagikan atau yang dikemukakan bu Tati lewat data-datanya,

Di kasus kami ada masalah-masalah yang sangat teknis, seperti koneksi internet, atau bahkan punya hard drive pun tidak, karena tadi terlihat dari survey gadget yang paling banyak digunakan adalah handphone.

Kami mungkin memiliki fasilitas, saya juga ikut berempati, mungkin yang tidak miliki oleh institusi lain.

Tapi saya ingin mengatakan bahwa pandemik ini mendatangkan tantangan yang begitu berganda tidak hanya masalah kurikulum tapi juga masalah bagaimana mahasiswa atau anak didik bisa mendapatkan pembelajaran yang seharusnya.

Tapi tentunya sebaik-baiknya kurikulum kalau memang para pengajar atau fasilitatornya juga tidak dibekali itu sama saja bohong, karena bad teaching is bad teaching. Kalau memang sebagus-bagusnya kurikulum, kalau memang tidak bisa dihantarkan sama saja bohong. Jadi yang kami lakukan disini adalah melakukan training berkala untuk bagaimana caranya untuk menyajikan pembelajaran secara sederhana yang lebih detail tapi juga bisa dilakukan mahasiswa,

Isu lain tidak selalu terkoneksi dengan internet. Kami tentunya melakukan survei, survei terhadap mahasiswa, karena mahasiswa kami ini tersebar dari Aceh sampai Merauke, dan mereka juga tadinya tinggal di Jakarta, tapi lama-lama karena sudah 6 bulan ini mereka kan harus pulang.

Jadi kami juga ketika melihat data-data yang sudah dibagikan itu sangat, menurut kami, sangat relevan;

“Oh ya ternyata betul mereka sangat bermasalah dengan koneksi internet.”

Point terakhir, apa sih langkah-langkah ke depan yang mungkin, yang bisa saya rekomendasikan pada saat yang baik ini.

Pertama adalah, mungkin pertanyaannya itu tapi menurut saya bukan tentang buka atau tutup sekolah, karena tentu saja yang menjadi concern pertama kenapa sekolah ditutup adalah karena wabah.

Karena kita bicara tentang bagaimana pandemik ini menyerang, dan kita memastikan bahwa anak didik, mahasiswa, dan semua yang terlibat itu selamat.

Jadi mungkin untuk pemerintah karena ada pak Totok (Kemdikbud) dan bu Hetifah (DPR Komisi X) disini, mungkin bisa bagaimana merancang kebijakan yang mungkin meminta atau memberi discretion. Namanya hyper-micro—menggunakan bahasa mas menteri—untuk melakukan survey tidak hanya sekolah, tapi juga orang tua.

Jadi orang tua disurvei sebenarnya seperti apa keinginannya, karena selama ini yang terjadi adalah, karena ada beberapa contoh soal sekolah yang sudah buka,

Yang terjadi adalah orang tua diberikan form yang menyatakan “oke kita sudah tahu akan membuka sekolah dan apapun yang terjadi itu diluar tanggung jawab sekolah”

Yang akhir sebenarnya yang menjadi masalah adalah tidak adanya manajemen resiko, sebenarnya kalau mau dibuka ini protokol kesehatannya mau ditutup, ini yang menjadi pertimbangannya. Karena selama ini yang menjadi titik beratnya adalah “oke kita benar-benar berat, kita makanya harus membuka” tapi tidak dikomunikasikan bagaimana ancaman-ancaman yang ada,

Apalagi misalnya, angkanya belum turun, zonasinya masih oke, misalnya oke boleh zonasi yang hijau buka,

Tapi apakah ada pemetaan secara micro untuk melihat bagaimana kasus, bagaimana tes yang sudah ada apa belum. Bagaimana misalnya lokasi sekolah, lokasi sekolah sekarang sudah ada di zona hijau maka dibuka. Tapi apakah dibahas tentang mahasiswa atau anak didik atau guru yang terlibat dalam sekolah. Mereka mungkin sekolah mereka di zona hijau, tapi mereka tinggal di zona merah. Terus kita harus melihat bagaimana transportasinya antara zona, apakah ini sudah selamat, sudah bisa, dan kontak guru dengan orang lain, atau kontak murid dengan yang lain ketika mungkin sudah hijau. Tapi mungkin mereka berhubungan dengan yang lain.

Jadi saya melihat bahwa, ada yang paling penting adalah bagaimana kita berkomunikasi ancaman tidak hanya benefit.

Yang terakhir adalah, lagi-lagi kita tidak bicara tentang teknologi infrastruktur, karena kami sudah memberikan misalnya paket internet dan bahkan hard drive untuk beberapa mahasiswa. Tapi tetap saja isunya lebih dari itu karena misalnya tadi tidak akan tergantikan pertemuan langsung. Interaksi langsung sesama, bagaimana pure learning, belajar bersama itu tidak tergantikan dengan online learning.

Dan makanya masa pandemik ini angka mahasiswa atau anak didik kami yang merasakan bahwa yang namanya mental health atau masalah kejiwaan itu benar-benar real. Karena sepi atau mereka terlalu intens berhubungan dengan orang tua.

Yang terakhir, kami mungkin ingin berbagi bahwa apapun keputusan dari sekolah atau pemerintah dalam hal ini untuk membuka atau menutup sekolah dan mungkin pembelajaran, atau hybrid sekalipun, itu harus diperhatikan secara comprehensive, mungkin kita harus lihat lagi sebenarnya apa sih yang dibutuhkan,

Karena kita ketika bicara tentang kurikulum, kita tidak bisa melepaskan juga di sisi-sisi lain seperti psiko-sosial. Ada beberapa mahasiswa yang bilang sekolah itu tidak hanya untuk sekolah, tapi itu tempat aman untuk saya.

Mungkin ketika pandemi ini ada kejadian atau ada masalah-masalah yang lain diluar ekspektasi.

Saya ada data yang bisa saya bagikan, salah satunya yang terpenting bila apapun nanti keputusannya, terpenting ketika mereka tetap harus dirumah yaitu:

Pertama mereka merasa tetap terhubung satu sama lain karena tidak hanya dikasih tugas terus lalu dibiarkan,

Tapi mereka merasa terhubung, mereka merasa tetap terdukung, proses belajar mereka,

Dan saya tidak bisa melepaskan ketika ini ada wabah kita harus melihatnya sebagai ada manajemen resiko yang harus kita lakukan, memitigasi apa saja kerugian-kerugian.

Salah satunya, tadi mungkin saya hanya baca singkat saja, mereka sangat kesulitan karena mereka merasa tidak bisa bertatap muka langsung. Mereka merasa jauh dari semuanya ketika mereka harus di rumah. Dan ketika mereka harus di rumah mereka merasa harus ada prioritas yang mereka harus kalahkan, tidak hanya harus kuliah. Yang mungkin paling menarik adalah manajemen waktu, ini mungkin berbeda skalanya ketika anak didiknya umurnya lebih muda, tapi time management itu harus salah satu concern.

Fasilitas apa saja ketika belajar, misalnya tadi ada yang mengatakan, penyederhanaan kurikulum. Itu sudah dilakukan sedemikian rupa agar yang penting tetap belajar dan tujuan dari pembelajaran itu tetap kita bisa dapatkan.

Terus tadi juga karena memang belajar di rumah tentu saja beda ketika belajar di sekolah atau di kampus.

Jadi ada berbagai macam lapisan-lapisan masalah yang mungkin kita lihat prioritasnya kemana, tapi yang jelas dari mendengarkan penjelasan pak Toto, bu Tifah, dan didukung data dari SMRC, saya melihat bahwa,

Apapun outcome-nya, apapun nantinya keputusannya, saya tahu, benar-benar percaya, kepada wakil rakyat kita, kepada pemerintah, bahwa ini kita bicara tentang generasi masa depan.

Dan ketika kita melakukan sesuatu kita yang dengar adalah semua orang, dan tadi saya mendengar kita harus melihat dari hyper-micro, hyper, hyper, lagi.

Ternyata saya tidak menduga saya mendengar dari pemangku kepentingan yang lebih besar, saya pikir “oh ini mungkin dari level yang lebih,”

Ternyata itu sudah menjadi pembahasan juga ketika ingin menentukan kebijakan.

Jadi sekali lagi saya terima kasih, akhirnya kita mudah-mudahan ada jalan terang.

Untuk menutup, saya berterima kasih kepada SMRC, kepada para panelis; bu Tati, bu Hetifah, Pak Totok, dan bung Saidiman,

Yang kita berurun rembug, sama-sama memikirikan sebagai “apa sih yang paling penting dari ini semua,” dan kita melakukannya dengan hati-hati dan benar-benar.

At the end of day, pada akhirnya mereka lebih penting dari semuanya.

Oke, sekali lagi saya ingin mengungkapkan apresiasi saya pada SMRC, kepada wakil rakyat kita—bu Hetifah—dan juga dari pemerinta—pak Totok—yang hadir dan semua yang ada disini,

kita maju ke depan untuk sama-sama bahwa: “we are in this together.”

Jadi semua merasa punya kontribusi, semua merasa bahwa ini adalah masalah bersama.

Dan mudah-mudahan this shall to pass, semuanya ini akan lepas, semuanya ini akan selesai.

Terimakasih SMRC, terimakasih mas Saidiman, pak Totok, bu Hetifah, bu Tati, dan semuanya.

 

Tinggalkan Komentar