Gerakan Literasi dan Read Aloud

373

Satu praktik menonjol dari kebijakan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah kehadiran rutinitas read aloud (baca nyaring) dalam kegiatan sehari-hari di sekolah Indonesia. Studi literasi menandai tiga komponen penting dalam kegiatan baca nyaring: guru pembaca (reader), buku, dan siswa. Masing-masing komponen tersebut memiliki urgensi dan daya tarik untuk dikaji.

Kajian soal guru dan kegiatan read aloud selalu menarik perhatian karena status guru sebagai figur sentral pendidikan literasi. Guru bertanggung jawab akan keberlangsungan kegiatan literasi di usia pendidikan formal siswa. Guru yang faham dan terlatih pendidikan akan berimbas baik bagi siswanya, sebaliknya guru yang tidak terlatih dan rendah kompetensinya akan merugikan siswa.

Peneliti SMRC, Tati Wardi, berlatar belakang pendidikan literasi sebagai studi doktornya, November lalu baru saja presentasi risetnya di Tokyo pada forum ilmiah IAFOR ( International Academic Forum) lembaga independen terdiri dari interdisiplin ilmu berkantor pusat di Nagoya Jepang. Isi presentasi yang Tati sampaikan adalah bagian dari kajian yang digelutinya tentang proses pendidikan guru untuk pendidikan literasi berkualitas. Lebih spesifik yaitu studi read aloud dalam konteks pendidikan guru (teacher education).

Presentasi Tati berangkat dengan pertanyaan: Apa yang kita ketahui tentang read aloud dan pendidikan guru? Penelusuran data dilakukan di dua sumber database: CITE ITEL, database dikelola oleh peneliti dan dosen pendidikan literasi di Universitas Texas at Austin, dan ERIC.gov.id. database kajian pendidikan yang dikelola oleh departmen pendidikan Amerika Serikat. Kata kunci utama adalah ‘read aloud,’ ‘teacher preparation,’ ‘preservice teacher’ untuk mengakses hasil penelitian terkait yang diterbit di penerbitan ilmiah dari tahun 2000-sekarang.

Hasil pencarian terkumpul 12 studi yang relevan dengan pertanyaan di atas. Konteks pengambilan data berasal dari Amerika Utara (Amerika Serikat dan Kanada).Temuan-temuan dari 12 studi tersebut kemudian dikelompokkan per tema. Dan berikut hasil yang Tati presentasikan.

Conceptual frameworks used in read aloud research. Bagian krusial penelitian adalah kerangka konsep penelitian, Tati mendapati mayoritas studi read aloud di teacher education menggunakan teori sociocultural/socionstructivisme dari Lev Vygostky ahli psikologi dari Rusia, yang mengangkat bahwa bahasa itu proses konstruksi dan hanya tumbuh dalam interaksi sosial. Karena itu wajar teori ini digunakan mengingat read aloud adalah kegiatan yang interaktif secara sosial (antara guru, buku, dan siswa). Bahasa verbal, gestur, ekspresi, dan mimik dihitung bagian dari proses pengembangan literasi. Pendidikan guru menjadikan perspektif ini sebagai rujukan dalam mendidik calon guru melakukan read aloud.

Patterns of interaction in read aloud. Pola interaksi antara guru dengan siswa saat read aloud berlangsung adalah tema yang banyak ditemukan di dalam kumpulan studi yang direview ini. Pola interaksi yang umum adalah penekanan siswa pada pembangunan narasi gambar (jika buku bergambar) dan narasi teks (kata-kata). Pola interaksi juga banyak tekankan siswa untuk memprediksi cerita selanjutnya, “apa kira-kira yang akan dilakukan si tokoh cerita ini?” Pola interaksi yang banyak bertanya ke siswa seperti ‘mengapa tokoh ini kelihatan sedih?” Calon guru dibiasakan dan melatih diri dengan pola-pola interaksi seperti ini agar dapat membangun literasi siswa secara bermakna dan juga efisien

Concerns with teachers. Guru juga seorang pembaca. Artinya ketika mendidik calon guru penting diperhatikan identitas mereka yang juga sedang belajar. Dari studi yang terkumpul tema yang menonjol adalah tentang pentingnya porsi penggalian sejarah literasi calon guru (reading history). Tujuannya agar calon guru merefleksi bagaimana literasi mereka tumbuh (diajarkan) baik itu ingatan yang positif ataupun yang mungkin traumatik. Tujuannya ketika berefleksi calon guru akan mampu mengkritisi praktik read aloud yang mungkin tidak bermakna dan kurang strategis, dan mereka mau terbuka pelajari praktik penyampaian read aloud mutakhir yang didukung oleh penelitian.

Read aloud materials. Tema tentang materi untuk read aloud menyentuh soal pentingnya keragaman koleksi buku (tema dan perspektif). Yang ditekankan di sini adalah tema yang membicarakan isu diversity/multikulturalisme. Calon guru harus punya pengetahuan yang baik tentang buku, terutama buku-buku yang beragam. Sekaligus, mereka juga harus terbiasa melatih diri menggunakan buku-buku bertema multicultural tersebut.

Apa relevansi temuan-temuan tersebut dengan pendidikan literasi Indonesia? Relevansinya adalah temuan tersebut jadi bahan rujukan seberapa saintifik kebijakan Gerakan Literasi Sekolah (GLS); apakah GLS dibumikan dengan merujuk pada perkembangan keilmuan literasi yang ada? Selanjutnya, dengan merujuk temuan ini, apa saja yang kita tahui tentang kualitas guru literasi Indonesia dari segi pengetahuan dan keterampilan mereka tentang praktik read aloud?. Informasi-informasi seperti ini mendesak untuk kita ketahui dan dimiliki oleh pengambil kebijakan pendidikan Indonesia.

Tinggalkan Komentar