Konsep Literasi dan Merdeka Belajar

249
Sumber foto: https://old.transsulawesi.com/images/img_artic/03-27-2017-08-48-14_748910_h.jpg

Sebelumnya dimuat di Harian Kompas, 15 Februari 2020.

Salah satu gebrakan Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan adalah Merdeka Belajar. Program ini menonjolkan ”literasi baca” sebagai fokus pengembangan sumber daya manusia Indonesia.

Konsep literasi baca di sini mengacu pada laporan Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA) sebagai ukuran tingkat literasi siswa. Sebelumnya PISA memang menjadi rujukan kebijakan pendidikan kita, hanya tidak secara resmi.

Kebijakan Merdeka Belajar secara eksplisit mencantumkan PISA sebagai tolok ukur resmi sehingga menjadikan konsepsi literasi baca PISA sebagai acuan utama. Bagaimana bentuk konkret kebijakan pendidikan literasi baca dengan gol PISA?

Secara terminologi, literasi baca adalah kegiatan yang melibatkan keterampilan kognisi dan linguistik untuk tujuan tertentu. Ketika berhadapan dengan teks, seseorang akan menjalani rangkaian proses membaca dari memahami, menggunakan, mengevaluasi, hingga merefleksikan teks.

Proses akan berjalan otomatis bagi siswa yang terampil. Bagi yang tidak, mereka akan terantuk di tahapan krusial membaca, yakni kemampuan evaluasi dan refleksi. Krusial karena untuk bisa mumpuni dalam dua kemampuan tersebut dibutuhkan proses pemelajaran terstruktur.

Terakhir, puncak literasi baca adalah ketika siswa suka pada kegiatan baca itu sendiri. Nilai kebaikan dari kegiatan baca adalah siswa tahu kebutuhan apa yang bisa dipenuhi dengan kegiatan membaca: mencari informasi, hiburan, dan lain-lain.

Konsep literasi baca menumbuhkan potensi siswa untuk aktif berpartisipasi dan bersumbangsih di pelbagai bidang, termasuk sosial ekonomi.

Literasi dan keterbatasan

PISA memakai tiga komponen utama literasi baca untuk menyusun pertanyaan tes, yakni pembaca, teks, dan konteks bacaan. Seperti tertulis di PISA 2018 Assessment and Literacy Framework, pertanyaan yang diajukan PISA berkisar pada upaya mencari tahu keterampilan siswa dalam mengolah ragam format teks dan tingkat kesulitannya. Juga keterampilan menavigasi pelbagai konteks bacaan, termasuk menelisik faktor pengalaman dan motivasi baca.

Namun, ada kesan PISA lebih mengutamakan bacaan yang bersifat nonfiksi. Ini tecermin dalam pertanyaan terlampir di PISA 2018 yang mayoritas teks berjenis informasi/nonfiksi. Seakan ada peminggiran peran penting teks fiksi untuk keterampilan baca siswa.

Peminggiran teks fiksi patut disayangkan. Peneliti Inggris Jerrim dan Moss baru-baru ini menelisik data PISA untuk melihat kaitan bacaan fiksi dengan keterampilan literasi baca remaja dari 35 negara maju. Ternyata, tingkat skor PISA remaja yang membaca fiksi lebih tinggi dibandingkan yang tidak.

Perbedaan ini sangat mencolok, terutama ketika dibandingkan skor PISA dan kaitannya dengan konsumsi teks dari genre dan format lain seperti nonfiksi, majalah, komik, dan surat kabar. Kesukaan membaca fiksi berefek positif pada keterampilan literasi baca karena buku fiksi merupakan jenis tulisan yang melibatkan jalan cerita, narasi tokoh dan perspektif yang tidak tunggal, serta format tulisan panjang. Pembaca teks fiksi butuh kemampuan konsentrasi dan masuk dalam cerita (reading engagement) untuk bisa menikmati karya fiksi. Hal tersebut tidak terjadi pada buku nonfiksi.

Isu lain terkait literasi baca PISA adalah kecenderungan untuk lebih mengkhususkan diri pada wilayah kajian literasi baca (reading research), terbatas pada bidang kognisi dan psikologi saja. Hal ini tidak memadai karena akan gagap dalam menjelaskan perilaku literasi siswa dengan latar belakang sosio kultural ekonomi beragam.

Pada titik inilah literasi baca dengan gol PISA perlu dilengkapi pendekatan lain seperti etnografis dan teori kritis. Misalnya studi etnografis Shirley Brice Heath yang mengamati literasi komunitas hitam di bagian Selatan Amerika, dalam buku klasik Ways with Words. Juga pendekatan kritis semacam Paulo Freire (critical pedagogy) yang berguna untuk melihat bekal pengetahuan yang siswa bawa ke sekolah.

Untuk Indonesia yang multikultur, pendekatan etnografi dan kritis perlu agar penerapan literasi baca dengan gol PISA ini jadi bermakna.

Siapkah guru Indonesia?

Keberhasilan literasi baca mengandaikan persiapan guru di perguruan tinggi. Belajar dari penelitian beberapa negara dengan tingkat literasi baca dan ekonomi tinggi, kita tahu bahwa negara tersebut sangat serius mempersiapkan guru literasi baca yang kompeten.

Reading Research Handbook membahas tren struktur program literasi baca di fakultas keguruan. Semua calon guru harus mengambil mata kuliah wajib terkait literasi baca.

Untuk calon guru tingkat dasar, mata kuliah literasi baca difokuskan pada fondasi baca dan mengaitkannya pada bahasa tulisan termasuk asesmen siswa. Mata kuliah buku anak juga penting untuk tingkat ini.

Sementara bagi calon guru tingkat menengah ke atas, mata kuliah literasi baca berfokus pada read to learn, yakni keterampilan baca diarahkan untuk memperluas pengetahuan akan ragam genre bacaan dan tulisan, dan mengaitkannya ke subyek pelajaran.

Pakar pendidikan guru dari Universitas Michigan State, Lynn Paine, dalam ceramah di Kemdikbud beberapa waktu lalu mengingatkan, berbicara masalah kualitas guru, kita harus lebih dulu melihat kondisi dan kualitas dosen yang mengajar guru dan lembaganya seperti fakultas keguruan dan lembaga pelatihan guru. Itulah yang mesti dimiliki fakultas keguruan Indonesia untuk mempersiapkan struktur dan spesifikasi guru literasi baca.

(Tati D Wardi PhD dalam Literasi dan Sastra Anak Ohio State University,
Peneliti SMRC, Dosen UIN Jakarta)

Berita sebelumyaKebangkitan Film Indonesia
Berita berikutnyaMayoritas Warga Anggap Covid-19 Ancam Penghasilan
Tati D. Wardi, Ph.D. (Ohio State University, Amerika Serikat) Bidang keahlian: Kebijakan Pendidikan Penelitiannya mencakup hubungan kebijakan pendidikan dengan implementasinya pada tingkat sekolah, khususnya dalam interaksi antara guru dengan murid, dan pendidikan literasi. Tati me-nyelesaikan program doktor dari the Ohio State University dalam bidang pendidikan literasi dan meraih program masternya dari Columbia University, New York. Beberapa tulisannya pernah dimuat di harian nasional seperti Kompas dan Koran Tempo. Ia pernah bekerja sebagai gradu-ate associate (2008-2013) di kantor US/Indonesia Teacher Education Consortium (USINTEC). Penelitiannya tentang perkembangan literasi diterbitkan dalam 59th Yearbook of the National Reading Conference (2010).

Tinggalkan Komentar