Menyegarkan Kebaruan PKS

92

SUKSESI senyap Partai Keadilan Sejahtera menyentak publik. Bukan se- nyapnya yang menarik. “Kebaruan” yang ditawarkannyalah yang mencuri perhatian. PKS, lewat suksesi ini, menawarkan kepemimpinan baru yang mungkin menghasilkan harapan dan optimisme baru. Dua ikon utama partai diganti. Hilmi Aminuddin, Ketua Majelis Syuro yang juga pendiri partai, yang selama ini terkesan sangat berkuasa bahkan seolah “tak tersentuh”, digantikan oleh Salim Segaf al-Jufri. Anis Matta, presiden dan pelaksana operasional utama partai, juga digantikan oleh Muhammad Sohibul Iman. Hilmi dan Anis adalah satu tim yang solid yang menjadi penentu jalannya PKS sejak awal pendiriannya.

Pergantian kepemimpinan PKS terjadi dalam suasana sinisme publik terhadap- nya. Berbagai skandal mencuat ke permukaan dan melibatkan kader-kader penting partai. Yang paling baru adalah kasus yang melibatkan Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho, yang kini ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi.

Meningkatnya sinisme publik terhadap PKS adalah ironi. Sebuah ironi karena, ke- tika partai ini hadir (awalnya bernama Partai Keadilan/PK), ia menjanjikan kebaruan yang memberi harapan dan optimisme publik akan perbaikan proses dan praktek politik di mana partai adalah salah satu pemain utama.

Apakah kepemimpinan baru PKS merupakan sinyal bahwa partai ini mengakui ada kesalahan dan kelemahan dalam gerak langkah mereka selama ini? Apakah ini berarti PKS sudah siap melakukan koreksi dan perbaikan dalam kebijakan dan peri- laku partai ke depan? Bila benar demikian, sesungguhnya PKS tidak akan terlalu sulit melakukannya. PKS cukup kembali pada “kebaruan” yang dulu ditawarkannya. Tugas kepemimpinan baru PKS adalah menyegarkan kebaruan itu, menawarkan- nya kembali kepada publik, dan melaksanakannya secara konsekuen.

Dari Optimisme ke Sinisme Publik

Ketika hadir di awal era Reformasi, PK(S) menawarkan sekaligus menjanjikan kebaruan. Dengan tegas, ia menunjukkan identitasnya yang berorientasi nilai Is- lam. Pada saat yang sama, ia sangat akrab dengan dunia modern dengan segala simbol kemajuan sains dan teknologinya. Berbeda dengan partai lainnya yang me- nawarkan sisi ideologi (formal), PKS menawarkan platform partai yang berorientasi kebijakan. Dari sini, kita mengenal slogan “bersih dan peduli”. Belakangan, slogan ini dilengkapi dengan slogan “profesional”.

Bersih dan peduli memiliki resonansi yang sangat kuat dengan masyarakat.Hingga saat ini, dalam ratusan jajak pendapat publik yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), misalnya, ketika ditanyakan pemimpin macam apa yang diinginkan masyarakat, selalu dua kualitas utama yang mengemuka: pemimpin yang peduli dan yang bersih. Tak mengherankan kalau PKS segera men- dapatkan banyak simpati sedari awal pendiriannya.

Data menunjukkan, PKS melejit dari partai yang hanya memperoleh suara kurang dari 2 persen pada 1999 menjadi partai menengah dan me- nyaingi, bahkan mengungguli, partai Islam yang sudah mapan. Pada 2004, PKS memperoleh suara di kisaran 8 persen. Pada 2009, suara itu di- pertahankan di tengah merosotnya perolehan suara partai-partai Islam yang lain.

Namun optimisme publik segera berubah menjadi sinisme ketika PKS tampak semakin pragmatis, meninggalkan orientasi nilai dan platform kebijakan yang ia dengungkan. Seiring dengan makin terlibatnya PKS dalam pengelolaan kekuasaan secara langsung, baik melalui lembaga legislatif maupun eksekutif, berbagai skan- dal mulai menggerogoti partai ini. PKS, di mata publik, menjadi partai yang “sama saja” dengan partai-partai lainnya.

Salah satu problem mendasar yang dihadapi PKS sebetulnya sama dengan prob- lem yang dihadapi partai-partai lain, yakni dana operasional. Iuran/sumbangan ang- gota (yang sebenarnya cukup berjalan di PKS) tidak lagi dapat diandalkan. Sumber lain pendanaan yang legal tersedia sangat sedikit. Akibatnya, PKS ikut terbawa dalam proses perburuan dan pencarian dana yang kurang jelas sisi legalitasnya.

Pemilu legislatif 2014 menunjukkan betapa terpuruknya citra PKS. Menurut data exit poll SMRC-LSI, sekitar 49 persen pemilih PKS pada 2009 berpindah memilih partai lain pada 2014. Hanya sekitar 27 persen dari pemilih partai lain pada 2009 yang berpindah menjadi pemilih PKS pada 2014. Secara sederhana, dapat dikatakan PKS mengalami defisit pemilih hampir 25 persen pada 2014. Hasilnya, suara PKS turun dari 8 persen pada 2009 menjadi kurang dari 7 persen pada 2014. Padahal partai-partai Islam yang lain (kecuali PBB) justru mengalami kenaikan signifikan.

Menyegarkan Orientasi Nilai dan Kebijakan

Secara demografi, pemilih atau pendukung PKS cenderung berusia muda, urban, dan berpendidikan tinggi. Dengan kata lain, pendukung PKS adalah kelompok warga negara yang kritis. Pendukung inti atau kader inti PKS kemungkinan besar tidak akan mudah berpindah ke partai lain atau menjadi apatis. Namun, di luar itu, pendukung PKS adalah kelompok yang sangat berorientasi pada kebaruan yang awalnya ditawarkan dan dijanjikan PKS.

Kini tugas pemimpin baru PKS menjadi gampang-gampang susah. Gampang karena PKS sudah memiliki platform dan orientasi kebijakan yang beresonansi de- ngan publik. Tapi ia menjadi susah karena memperkenalkan kembali kepada publik yang pernah kecewa merupakan satu tantangan tersendiri.

Namun tidak ada pilihan lain bagi pemimpin baru PKS kecuali menyegarkan dan menawarkan kembali kebaruan itu. Kali ini ia harus dibarengi dengan kerja nyata dan sungguh-sungguh berpegang padanya serta tidak tergoda oleh pragmatisme yang memang secara umum menggejala.

Sebelumnya dimuat di Majalah Detik edisi 17 – 23 Agustus 2015

Tinggalkan Komentar