Sumber foto: https://cdn.medcom.id/dynamic/content/2020/04/22/1136035/kipKQDaW3I.jpg?w=1024

Presentasi Raden Pardede, ekonom, pada rilis dan diskusi hasil survei SMRC tentang RUU Cipta Kerja dan Ekonomi Pandemi, 30 Juni 2020. 

 

Saya berterima kasih karena diundang mendiskusikan hasil survei SMRC ini. Saya akan mulai membahas dari hasil survei mengenai kondisi ekonomi. Bagian kedua saya akan membahas hasil survei mengenai RUU Cipta Kerja.

Pada hasil survei terlihat kondisi ekonomi lebih baik dibanding awal bulan Mei. Namun jika dibandingkan dengan tahun lalu, masih sangat jauh. Demikian juga dengan pendapatan rumah tangga yang turun 75%. Ekspektasi di tingkat rumah tangga juga masih agak ragu, belum yakin betul. Masih 49 persen yang bilang mungkin akan membaik, tapi 45% mereka melihat mungkin lebih buruk atau tidak ada perubahan.

Demikian juga keadaan ekonomi sekarang dibandingkan dengan tahun lalu, lebih buruk. Jadi jelas sekali memang bahwa data-data juga menunjukkan yang seperti itu. Kita melihat pada data-data mingguan kita, dari Juni ke Juni, bahkan dari pertengahan Juni ke minggu ketiga Juni lebih baik jika dibandingkan dengan Juni awal. Dan Juni awal itu juga lebih baik dari Mei. Tapi dibandingkan dengan tahun lalu, penjualan dari para pedagang masih negatif. Minusnya diperkirakan mencapai 70-75 persen.

Yang kita lihat dari data-data ini, kalau boleh saya simpulkan, keadaan ekonomi jelas lebih buruk dari tahun lalu. Dan bukan hanya Indonesia yang mengalami ini, tapi seluruh dunia. Seluruh rumah tangga di dunia, kalau dilakukan survei, datanya akan mirip dengan temuan ini.

Satu hal yang bisa saya katakana: kali ini beda dengan yang lain-lainnya. Karena secara sengaja pemerintah menghentikan kegiatan. Pada krisis-krisis sebelumnya, misalnya 1998, 2008, bahkan pada saat resesi tahun 1929, pada saat yang disebut sebagai Great Depression, atauh bahkan pada masa perang dunia kedua pun, terjadi krisis ekonomi, tapi tidak pernah pemerintah melarang orang bekerja. Belum pernah pemerintah melarang orang bepergian. Jadi memang kali ini dampaknya agak berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya.

Yang berikutnya, kita lihat dari data-data tadi, kita sebetulnya sudah bottom rock. Kita sudah meluncur ke bawah. Seberapa dalam kita turun? Kita sudah mencapai dasar. Dari data-data dan hasil survey tadi sudah menunjukkan itu.

Pertanyaan berikutnya adalah seberapa lama kita di dasar ini? Sanggupkah kita?

Pengakuan Menteri Keuangan atau BPS, di kwartal kedua, minusnya bisa 3 sampai 5 persen. Ini tidak mengagetkan. Padanannya adalah Cina. Cina di kwartal pertama tahun ini, minus 6 persen. Kita tahu kejadian di Wuhan terjadi di kwartal 4 tahun lalu. Dampaknya kwartal pertama tahun ini.

Di kita, mulai muncul pandemi di Maret. Maret masih positif di 2,97 persen. Kwartal kedua kita akan seperti kwartal pertama di Cina. Tidak akan jauh. Bisa minus 3 atau minus 6 persen. Kenapa? Karena secara sengaja Pemerintah melarang warganya bekerja, dalam rangka kesehatan.

Kita tahu, mulai Juni larangan itu dicabut. Ini karena, seperti dalam survei, masyarakat informal tidak sanggup tidak bekerja. Kecuali mereka didukung pemerintah, habis-habisan. Berbeda dengan warga negara maju. Mereka punya jaminan sosial yang membuat mereka mampu tidak bekerja. Itu yang terjadi di negara-negara skandinavia.

Pemerintah harus menghadapi dilema: menjaga hidup dan menjaga mata pencaharian agar hidup. Safeguard our lives dan safeguard our livelihood.

Sekitar 75 persen warga kita bekerja di sektor informal. Mereka tidak mampu tidak bekerja. Pemerintah harus membantu mereka dengan jaring pengamanan sosial. Dan pemerintah sudah memberikan, yang jumlahnya terbesar dalam sejarah Indonesia. Dan ini masih akan berlangsung hingga akhir tahun.

RUU Cipta Kerja

RUU Cipta Kerja ini menjadi semakin relevan dengan kondisi sekarang di masa Covid-19 ini.

Dengan reformasi ekonomi, dengan perubahan-perubahan tatanan ekonomi, misalnya teknologi, mobilitas barang dan manusia, struktur demografi, juga struktur urbanisasi, semua berubah. Dengan perubahan ini semua, eksternal maupun domestik, sudah menjadikan RUU Cipta Kerja ini relevan. Apalagi dengan covid 19, RUU ini semakin relevan.

Contoh, dengan covid 19, orang cenderung bekerja secara online. bekerja dari rumah. Sama dengan webinar yang kita lakukan. Mungkin ini trendnya. Tidak perlu seminar yang ramai.

Pasar juga pindah ke online. Orang berdagang di ruko akan jauh berkurang. Maka akan diperlukan skill-skill baru. Produk-produk seperti jaket kulit atau produk kreatif lain mungkin tidak akan lagi dipasarkan lewat jalur tradisional. Pembelinya juga bisa dari Brazil, bisa dari Swedia.

Perubahan-perubahan ini makin mendorong kita untuk melakukan reformasi. Skilll kita harus diretools lagi. Perilaku masyarakat, termasuk cara berdagang, sudah berbeda. Hubungan orang yang bekerja dengan pemberi kerja, akan berbeda. Mungkin akan semakin berkurang orang yang bekerja tetap. Makin banyak orang yang bekerja secara bebas.

Jadi kita harus bersiap. Dengan adanya covid 19 terjadi percepatan revolusi.

Maka, dengan kondisi ini semua, harus ada juga perubahan-perubahan signifikan dalam pelayanan pemerintah. Tidak ada jalan lain. Ini yang ada di pikiran semua ekonom. Pemerintah harus memperbaiki semua sistem pelayanan. Kemudahan berbisnis.

Seperti ditunjukkan survei SMRC, semakin rendah tingkat pendidikan dan pendapatan masyarakat, semakin sulit mengurus ijin. UMKM lebih sulit mengurus ijin dibanding perusahaan besar.

Birokrasi dan regulasi kita memang sangat sulit. The most binding constrains. Regulasi dan kelembagaan kita memang menyulitkan. Survei SMRC menkonfirmasi kenyataan itu.

Dengan covid 19, di samping kesulitan yang dihadapi UMKM, saya melihat ada kemungkinan permanent job loss. Pekerjaan-pekerjaan menghilang untuk jangka waktu lama. Sejumlah pekerjaan padat karya, yang dulunya sudah di-outsource, untuk kembali akan tidak mudah.

Karena itu, saya melihat, dunia pekerjaan ke depan tergantung pada kapasitas kemampuan seseorang untuk melakukan penyesuaian. Ini tantangan besar.

Tentu kita tahu ada sektor-sektor yang lebih lambat pulih. Sektor pariwisata, sektor transportasi termasuk yang sulit. Juga ada sektor-sektor yang akan bangkrut. Di Amerika sudah terjadi.

Ini jadi tantangan kita untuk mereformasi diri. Menyesuaikan dengan dinamika yang terjadi. Data-data temuan Survei SMRC ini semua mengkonfirmasi apa yang sudah kita pikirkan selama ini.

Tinggalkan Komentar